Senin, 01 Juni 2009

Pengalaman Guru SMK Masih Kurang

/

Selasa, 26 Agustus 2008 | 19:38 WIB

JAKARTA, SELASA - Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran di SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.

Di SMK itu belajar untuk bisa mengerjakan, sedangkan di SMA siswa belajar tahu. Tetapi pendekatan yang dilakukan guru di SMK masih banyak yang belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan orang-orang yang siap kerja. "Kondisi ini terutama karena guru SMK umumnya tidak banyak yang punya pengalaman terjun di dunia usaha dan industri yang terus berubah dan berkembang," kata Marlock, Koordinator Lapangan Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI) di Jakarta, Selasa (26/8).

Marlock memperkirakan tidak sampai 50 persen guru SMK di Indonesia yang benar-benar memahami kebutuhan dunia kerja dan industri. Kenyataan ini terlihat dari berbagai pelatihan yang dilaksanakan FP3KI, lembaga yang didirikan sejumlah pengusaha yang terdorong untuk meningkatkan mutu guru dan pembelajaran di SMK, sejak tahun 1997.

Peningkatan mutu pendidik SMK itu juga harus jadi fokus utama. Bagaimana para guru ini bisa mentransfer keterampilan dan informasi perkembangan teknologi terbaru yang dipakai perusahaan-perusahaan, jika mereka terbatas untuk bisa bersentuhan dengan kalangan industri, kata Marlock

Dari data Departemen Pendidikan Nasional, sebanyak 120.764 guru SMK berpendidikan S1 dan S2 sebanyak 1.691 guru. Masih ada 33.297 guru yang berpendidikan SMA hingga DIII.

Persoalan lainnya, guru SMK masih belum mampu menerapkan pembelajaran yang aplikatif di dunia kerja. Misal dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SMK, guru sering terjebak pada gaya pembelajaran di SMA yang lebih banyak mengajarkan teori. Padahal, kebutuhan siswa SMK harus bisa menggunakannya untuk berkomunikasi sesuai bidang keahlian

Henny Hartini, Humas SMKN 30 Jakarta, mengatakan kesempatan magang di perusahaan untuk guru biasanya difasilitasi dinas pendidikan. Jika kuota yang disediakan cukup banyak, guru dari suatu sekolah punya kesempatan lebih banyak untuk mengirim pendidiknya bisa terjun langsung di dunia usaha dan industri.

Sekolah sendiri punya inisiatif untuk mendatangkan guru tamu ke sekolah. Selain siswa bisa belajar dari ahli yang berpengalaman, guru juga bisa menambah pengetahuannya untuk bisa mengembangkan proses belajar di sekolah, kata Henny.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar