Senin, 01 Juni 2009

Jumlah Siswa SMK di Daerah Meningkat [Nusantara]

Harian umum pelita

www.hupelita.com


Tahun 2008 di beberapa daerah telah terjadi peningkatan jumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana pada saat ini tercatat 2,86 juta siswa dengan jumlah penambahan tahun ini mencapai 1,3 juta siswa.

Untuk tahun ini kita mengalami peningkatan jumlah siswa SMK di berbagai daerah dan ini sudah sesuai dengan harapan pemerintah untuk meningkatkan jumlah sekolah SMK. Bahkan untuk tahun depan targetnya bisa mencapai 3,2 juta siswa, kata Direktur SMK Joko Sutrisno kemarin.

Adapun daerah yang mengalami pertambahan jumlah siswa SMK yang cukup bagus antara lain Solo, Wonogiri, Klaten, Surabaya dan Bandung.
Peningkatan ini dinilai Joko merupakan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Peningkatan jumlah siswa SMK ini saya yakin terkait dengan paradigma masyarakat yang makin realistis terhadap pendidikan, jelasnya.

Selain itu masyarakat juga semakin memahami dengan masuk SMK akan lebih cepat mendapatkan pekerjaan dan itu merupakan solusi yang tepat, dimana pada saat ini masyarakat membutuhkan pekerjaan yang cepat dan dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Di sisi lain SMK membutuhkan pasokan guru dalam jumlah yang cukup besar. Menurut perhitungan kasar, saat ini setidaknya dibutuhkan penambahan 5.000 guru SMK dengan berbagai jenis keterampilan kerja yang siap diterjunkan double shift.
Penambahan tenaga pengajar bagi SMK tersebut diakui Joko merupakan imbas dari membanjirnya peminat masyarakat untuk bersekolah di SMK. Tahun ajaran kali ini terdapat peningkatan jumlah peminat SMK yang sangat signifikan. Tercatat 1,3 juta siswa mendaftar di SMK, jelasnya.

Jumlah tersebut lanjut Joko meningkat 25 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal rasio penambahan jumlah SMK sendiri hingga 2008 baru meningkat 10 persen. Itu artinya semua bangku yang ada di SMK terisi penuh termasuk SMK yang baru berdiri.
Peningkatan jumlah peminat SMK tersebut membutuhkan penambahan jumlah pengajar yang tak sedikit. Jumlah guru SMK sendiri hingga sekarang tercatat 200 ribu guru dimana 130 ribu diantaranya berstatus PNS.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar tersebut, Direktorat Pendidikan Kejuruan melakukan upaya diversifikasi guru SMK. Salah satu caranya adalah dengan merekrut mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan PPL (Praktik Pengenalan Lapangan) untuk menjadi tenaga pengajar SMK.

Program ini kami sebut sebagai KKN tematik. Jadi sambil KKN, mahasiswa diminta menjadi guru di SMK, lanjut Joko. Tahun ajaran ini, ada 8 perguruan tinggi yang sudah mengadakan memo kesepakatan kerja dengan Direktorat Pendidikan Kejuruan untuk melaksanakan program KKN tematik ini.

Yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Universitas Negeri Surakarta (UNS), Universitas Negeri Makasar, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Medan dan Universitas Gajayana Malang. Beberapa jenis keterampilan yang bakal diajarkan oleh mahasiswa ini antara lain pertanian, ekonomi, bisnis, manajemen dan teknologi. Jenis keterampilan tersebut harus dikuasai oleh mahasiswa calon peserta KKN tematik. Menurut Joko, pada tahap pertama KKN Tematik akan menerjunkan 600 mahasiswa. Mereka akan terjun ke lapangan selama 6 bulan berturut-turut. Lalu pada semester berikutnya akan digantikan oleh mahasiswa lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar