Sabtu, 19 Desember 2009

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PERENCANAAN PENDIDIKAN

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PERENCANAAN PENDIDIKAN

PENDEKATAN PERMINTAAN MASYARAKAT
Menurut Enoch (1986) istilah permintaan masyarakat terhadap pendidikan paling tidak digunakan dalam tiga bentuk perencanaan pendidikan yaitu
pertama, bila sasaran rencana pendidikan ditekankan pada factor kependudukan
kedua, bila sasaran rencana pendidikan didasarkan pada tujuan nasional suatu bangsa sesuai dengan aspirasi sosial dan kemajuan politik pemerintah.
Ketiga, bila proyeksi rencana didasarkan pada analisis kebutuhan individu terhadap pendidikan.
Menurut bentuknya perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat yang paling sederhana, target rencana pendidikan disusun berdasarkan kelompok populasi atau proyeksi calon peserta didik (umur dan jenis kelamin). Perencanaan pendidikan didasarkan pada analisis dan proyeksi himpunan permintaan individu dapat dipengaruhi oleh nilai budaya dan social yang berbeda.
Perencanaan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat tidak mengandung arti bahwa kebutuhan akan pendidikan hanya dipengaruhi oleh variable social. Perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat bukan berarti bebas dari pengaruh ekonomi, tetapi para analisis harus lebih mempertimbangkan factor lain yang bukan ekonomi.
Perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat digunakan dalam penelitian-penelitian di mana factor penentu target jumlah peserta didik pada masa mendatang adalah terbatasnya ruang kelas, standar mutu yang dikombinasi dengan jatah penerimaan, kebijakan besiswa dan beban uang kuliah, jangkauan geografi, karakteristik kepercayaan calon peserta didik, standar mutu yang diterima, ujian dan kebijakan khusus, ataupun kebijakan umum dalam system penerimaan terbuka atau penerimaan seleksi.

PENDEKATAN BERDASARKAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA
Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja merupaka salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk mengintegrasikan factor ekonomi ke dalam perencaan pendidikan. Menurut Davis (1980) ada tiga pertimbangan pokok yang dapat diidentifikasikan dalam penggunaan pendekatan kebutuhan tenaga kerja yaitu perkiraan mengenai kemungkinan pertumbuhan pendapatan nasional kotor (GNP), asumsi mengenai hubungan antara pertumbuhan berbagai sector ekonomi dengan jumlah tenaga kerja yang memiliki kualifikasi tertentu , dan tingkat maksimum produktivitas tenaga kerja. Proses perencanaan pendidikan berdasarkan pendekatan kebutuhan tenaga kerja dimulai dengan membuat prakiraan kuantitas, kualitas, dan kualifikasi kebutuhan tenaga kerja untuk berbagai sector ekonomi.
Jusuf (1980) mengemukakan bahwa bila pendidikan diarahkan berdasarkan persyaratan kebutuhan tenaga kerja, cara perhitungannya didasarkan pada perkiraan pendapatan nasional. Proses perhitungannya melalui enam tahapan yaitu :
1. Proyeksi produksi persektor.
2. Taksiran perkembangan produktivitas tenaga kerja persektor.
3. Perkembangan produksi dan perubahan produktivitas sector industri.
4. Perincian seluruh tenaga kerja yang diperlukan berbagai jenis pekerjaan.
5. Jenis dan tingkat pendidikan yang diperlukan.
6. Jumlah tenaga kerja yang harus dihasilkan oleh lembaga pendidikan.

PENDEKATAN NILAI BALIK DALAM PERENCANAAN PENDIDIKAN
Pendekatan rate of return di dalam perencanaan pendidikan pada model ekonomi. Pendekatan ini digunakan untuk memungkinkan mengadakan perbandingan secara ekonomis antara investasi yang diberikaan pada sistem pendidikan dengan investasi yang diberikan kepada sektor ekonomi lainnya. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk menjamin bahwa alokasi sumber daya diantara sektor ekonomi yang berbeda disesuaikan dengan manfaat yang diharapkan.
Menurut Barrios dan Davis (1980) kesulitan utama dalam menggunakan pendekatan ini yaitu tingkat maksimal keuntungan sosial yang diperoleh dari pendidikan di universitas atau jenis pendidikan lainnya pada saat ini dan yang akan datang tidak selalu sama. Melalui berbagai studi para ahli ekonomi berusaha untuk membuktikan bahwa nilai keuntungan (rate of return) mempunyai kaitan yang signifikan antara peningkatan pendapat dengan peningkatan pendidikan.
Para ahli pendidikan dapat menerima walaupun tidak keseluruhan prinsip rate of return bahwa investasi dalam pendidikan disusun berdasarkan suatu keuntungan baik keuntungan yang diperoleh masyarakat maupun keuntungan yang diperoleh perseorangan dalam bentuk peningkatan produktivitas yang tercermin dalam peningkatan pendapatan.

PENDEKATAN SISTEM TERPADU
Pendekatan sistem merupakan suatu kerangka ilmu pengetahuan yang dapat memadukan berbagai pendekatan yang sifatnya parsial menjadi suatu pendekatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu.
Pendekatan perencanaan sistem pendidikan yang secara teoritik selama ini ada yaitu:
1. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat.
2. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja dan,
3. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan nilai balik.
Untuk dapat memadukan ketiga pendekatan dalam perencanaan pendidikan diperlukan suatu pendekatan perencanaan yang memiliki karakteristik sistemik, analitik, dan sistematik.
Sistemik dalam arti permasalahan dilihat dari konteks keseluruhan .Analitik dalam arti setiap permasalahan dianalisis sebab dan akibatnya dikaitkan dengan berbagai masalah yang ada baik di dalam maupun di luar sistem.Sistematik dalam arti cara kerjanya beraturan atau runtut. Hal ini dapat dilihat dari proses kegiatannya yaitu perumusan masalah, penelitian, penilaian, penelaahan,. Pemeriksaan, dan pelaksa naan.
Karakteristik model kerangka perencanaan pendidikan berdasarkan pendekatan sistem yaitu :
1. Proses perencanaan bersifat terbuka, faktor lingkungan termasuk yang diperhitungkan ditujukan untuk melakukan perubahan internal dan eksternal dan mengarah pada penyesuaian sistem dan lingkungannnya.
2. Kemajuan sistem ditujukan untuk mengadakan perubahan terhadap yang ada dan seharusnya ada.
3. Permasalahan didekati secara normatif dan mengacu ke masa depan.
4. Pemilihan alternatif berada pada tingkat pengambilan keputusan.
5. Bersifat futuristik.
6. Bersifat akomodatif.
7. Dalam memecahkan masalah disekati secara sistemik, analitik, dan sistematik,
8. Norma penilaian rencana dan keputusan dilakukan melalui proses sosialisasi.

Kerangka Dasar Model Sistem Pendidikan’
Pada garis besarnya kerangka dasar model sistem pendidikan terdiri atas input, yang berupa calon peserta didik, instrumental input yaitu sumber daya pendidikan. Environmental input meliputim aspek kehidupan bangsa, proses merupakan kegiatan mengubah masukan (peserta didik) menjadi keluaran (output).
Dalam sistem pendidikan, masukan (peserta didik) diproses melalui kegiatan proses belajar mengajar ditunjang oleh sumber daya pendidikan. Mengingat sistem pendidikan merupakan sistem terbuka yang berada pada suatu lingkungan masukan dari lingkungan luar sistem pendidikan perlu diperhatikan. Walaupun masukan dari lingkungan luar sistem pendidikan itu tidak seluruhnya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar dalam sistem pendidikan namun interaksi, interrelasi, dan dinamika aspek kehidupan yang berada di luar lingkungan sistem pendidikan berdampak luas terhadap sistem pendidikan.

Substansi dan Aspek Perencanaan Sistem Pendidikan
Pada garis besarnya substansi perencanaan sistem pendidikan meliputi tiga tuntutan terhadap sistem pendidikan yaitu permintaan masyarakat terhadap pendidikan berwujud berapa besar, tuntutan agar hasil pendidikan bermutu dan relevan secara proporsional dengan kebutuhan tenaga kerja , dan sistem pendidikan dituntut agar dilaksanakan secara efisien yang dapat memberikan nilai balik antara sumber daya yang digunakan sistem pendidikan dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari hasil pendidikan baik untuk individu maupun untuk masyarakat.

Kerangka Model Perencanaan Sistem Pendidikan Terpadu
Peserta didik merupakan masukan utama yang akan diproses dikaitkan dengan tiga aspek perencanaan pendidikan yaitu kuantitas, relevansi, dan mutu pendidikan. Dari hasil proses tersebut ditujukan untuk menghasilkan sejumlah lulusan secara proporsional dengan kualitas tertentu yang relevan dengan berbagai kebutuhan. Salah satu jembatan penghubung antara kualitas lulusan dengan proporsi kuantitas lulusan adalah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor baik sektor formal maupun informal.
Dalam proses sistem pendidikan diperlukan masukan instrumental yaitu sumber daya pendidikan meliputi kurikulum, prasarana pendidikan, sarana pendidikan, sumber belajar, tenaga non kependidikan,. Selain ditunjang oleh masukan instrumental juga ditunjang dan dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial.
Kedudukan tujuan pendidikan dalam model perencanaan pendidikan terpadu merupakan landasan substansi dan aspek perencanan sistem pendidikan.

Aspek Perencanaan Pendidikan
1. Aspek Kuantitatif
Adalah aspirasi dan permintaan masyarakat terhadap pendidikan. Perencanaan sistem pendidikan dilakukan berdasarkan sosial demand aproach dan pendekatan sistem dilakukan melalui kegiatan berikut.
Perumusan proyeksi jumlah kelompok usia peserta didik menurut jenjang pendidikan didasarkan pada proyeksi jumlah penduduk secara keseluruhan proyeksi bersumber dari instansi yang berwenang .
Perumusan kebijakan arus peserta didik biasanya ditentukan oleh kebijakan politik. Misalnya untuk kurun waktu tertentu sebesar berapa persen anak usia tertentu harus mengikuti pendidikan. Di dalam proses perumusan kebijakan arus peserta didik selain kebijaksanaan politik perlu dikembangkan berbagai alternatif dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal dalam pendidikan.
Faktor internal perlu dikaji antara lain jumlah satuan, peserta didik, tenaga kependidikan pada semua satuan, jenjang dan jenis pendidikan, susunan program pengajaran, jumlah angka partisipasi murni dan partisipasi kasar penduduk SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Faktor eksternal yaitu berkenaan dengan pertumbuhan penduduk, letak geografis,, infrastruktur, dan trasnportasi kurang memadai, dan kemampuna ekonomi orang tua dan masyarakat perlu diperhatikan.

2. Aspek Kualitatif
Merencanakan kualitas pendidikan berarti merencanakan kemampuan berfikir, mengubah sikap, dan meningkatkan keterampilan peserta didik. Suatu pendidikan dikatakan berkualitas apabila :
Proses belajar mengajar berjalan efektif, peserta didik mengalami proses pembelajaran bermakna ditunjang oleh sumber daya pendidikan dan lingkungan yang kondusif.
Dalam proses pendidikan peserta didik menunjukkan tingkat kemampuan prestasi belajar, mengetahui sesuatu dan dapat melakukan sesuatu secara fungsional serta hasil pendidikan sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

3. Aspek Relevansi
Relevansi pendidikan melekat inherent dengan perkembangan kemajuan dan aspirasi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan di suatu tempat tertentu dalam kurun waktu tertentu. Aspek relevansi menyusun rencana pendidikan yang dilakukan pada hari ini sebenarnya hasilnya diperuntukkan untuk masa depan. Kaitan masa kini dan masa depan dalam perencanaan aspek relevansi merupakan pangkal tolak perencanaan aspek relevansi. Karakteristik perencanaan aspek relevansi harus bersifat futuristik. Konsep relevansi sebenarnya lebih mendasari konsep peningkatan peningkatan mutu pendidikan.

4. Aspek Efisiensi
Dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu edfisiensi internal dan eksternal sistem pendidikan. Fisiensi internal ditandai oleh tinggi rendahnya angka putus sekolah dan angka mengulang kelas. Efisiensi eksternal merujuk kepada efektivitas manajemen sistem pendidikan secara keseluruhan yang disebabkan oleh kelambanan dalam manajemen sistem pendidikan. Kelembanan ini disebabkan oleh profesionalisme, mekanisme proses pengambilan keputusan dsb.
Untuk mengefesienkan dan mengefektifkan sistem pendidikan diperlukan rencana terpadu yang mengaitkan masukan instrumental dan masukan lingkungan dalam proses perencanaan peningkatan efesiensi manajemn sistem pendidikan guna menghasilkan lulusan bermutu dan relevan dengan berbagai kebutuhan melalui pendayagunaan sumber daya pendidikan secra efisien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar