Senin, 01 Juni 2009

Evaluasi Proses Pembelajaran

Oleh: Ardiani Mustikasari, S. Si, M. Pd

Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran, karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses
b. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru

A. EVALUASI DIRI
Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru
Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran, seperti:
• Apa yang saya ajarkan hari ini?
• Apa yang masih membingunkan bagi siswa?
• Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan?
• Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan?
• Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan?
• Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan?
• Apakah saya telah membelajarkan siswa?
• Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran?
• Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi?
• Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo, websites, dll)?
• Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai?

B. EVALUASI KOLABORATIF
Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa.

C. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN
Dalam evaluasi proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah:
1. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
2. dokumen hasil diskusi, kliping, laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
3. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumber-sumber belajar
4. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan, mengakses internet, kelompok ilmiah remaja, kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jepang, bahasa mandarin, bahasa perancis, dan lain-lain), mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum, kebun raya, pusat industri, dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar
5. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi, daur ulang sampah, kunjungan ke laboratorium alam, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
6. dokumen kegiatan pekan bahasa, seni dan budaya, pentas seni, pameran lukisan, teater, latihan tari, latihan musik, ketrampilan membuat barang seni, karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
7. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan, konser musik, pagelaran tari, musik, drama, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya
8. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas, tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif.
9. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama, peringatan hari-hari besar agama, membantu warga sekolah yang memerlukan
10. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa, seperti: hasil portofolio, buletin siswa, majalah dinding, laporan penulisan karya tulis, laporan kunjungan lapangan, dan lain-lain
11. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah

Guru Berprestasi dan Berdedikasi Terima Penghargaan Oleh arif

Jumat, 02 Mei 2008 15:41:25

Puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di kota Padang diselenggarakan di lapangan Imam Bonjol Padang, Jumat (2/5) kemarin. Upacara Hardiknas yang diinspekturi langsung Walikota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si memberikan penghargaan kepada 3 orang guru dari masing-masing tingkat sekolah yang dinilai berprestasi dan berdedikasi. Para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut ialah untuk guru Taman Kanak-Kanak (TK) diterima oleh Deni Lastri (TK Semen Padang - juara I), Rolania (TK. Bayangkari I - juara II) dan Dona Andriani (TK. Mardyah - juara III). Untuk SD diraih Rifri Iffendri (SD Percobaan - juara I), Nurhaifi (SD. 05 Padang Pasir - juara II) dan, Ernawati (SDS. Khaira Ummah - juara III). SMP/Mts diberikan kepada Zamzami (SMPN 13 - juara I), Yuhelma (SMPN 15 - juara II) dan Raidawiyah (SMPN 28 - juara III). SMK/SMA/MA disabet oleh Ramadamsyah (SMAN 1 - juara I), Yulinar (SMKN 9 - juara II) dan Rusman Ujang (SMAN 10-juara III).

Para guru berprestasi dan berdedikasi tersebut berhak menerima reward berupa uang pembinaan, tropy, piagam serta berkesempatan melakukan studi banding ke sekolah-sekolah ternama di kota Yogyakarta dan Surabaya. Bagi peraih peringkat pertama, Dinas Pendidikan Kota Padang memberikan kepercayaan kepada guru tersebut, untuk menjadi wakil dari kota Padang pada pemilihan guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Sumatera Barat. "Kita berharap mereka yang mewakili kota Padang bisa pula bersaing ditingkat propinsi untuk meraih tiket menuju pentas nasional," ungkap H. Mara Sutan ketua pelaksana Penyeleksian Guru Berprestasi dan Berdedikasi Diknas Padang.

Ditambahkan Mara Sutan, penyeleksian guru berpretasi dan berdedikasi, merupakan usulan dari masing-masing kecamatan di kota Padang. Dari 11 kecamatan yang ada, masing-masingnya mengirim 3 orang guru terbaik dari masing-masing tingkat pendidikan (TK, SD, SLTP, SLTA). "Jadi tiap tingkat pendidikan itu ada 33 orang guru yang diseleksi," terangnya. Penilaiaan terhadap penyeleksian guru berprestasi dan bededikasi ini meliputi, tes potensi akademik, psikotes, presentasi karya tulis kemampuan mengajar, wawancara dan Visit Home.

"Visit Home ini maksudnya, tim penilia melakukan penilai terhadap kemampuan guru tersebut bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Apakah guru tersebut aktif dimasyarakat atau tidak akan terlihat disini. Termasuk guru yang suka masang togel, nongkrong di kedai berguncing, atau sering selingkuh terhadap tetangganya yang suami suka mengganggu istri orang dan sebaliknya, akan ditelusuri secara detail oleh tim penilai. Benar nggak guru ini baik atau tidak. Atau hanya manis dan cerdas dalam mengajar, sedangkan pergaulan diluarnya amblas, dari sana baru terlihat kepribadian guru tersebut luar dalam," beber Kasi SMA ini.

Untuk tim penilai Diknas Padang menurunkan pengawas sekolah kota Padang, mantan guru berprestasi dan pemangku jabatan struktural kota Padang. "Pada penilaian panitian dan tim juri berusaha semaksimal mungkin menilai dengan baik jujur serta tidak melupakan satupun pokok-pokok penilai. Ya, kalau ingin tau penilaiaan yang jujur dan adil itu bagimana kami dari panitia belum bisa mewujudkannya dengan tegak dan detail, toh yang bisa melakukan itu hanya Yang Maha Kuasa," tutup Mara Sutan. (***)

Sebanyak 14.000 Siswa di Ciamis Terancam Putus Sekolah Ciamis, Kamis

Kamis, 14 Maret 2002, 09:11 WIB

Kompas.com

Sekitar 14.000 siswa SD, SLTP dan SLTA di Kabupaten Ciamis, Jabar, terancam droup out (DO), karena berbagai sebab, diantaranya akibat orangtua mereka tidak mampu membiayai sekolah anaknya.

Kepala Dinas Pendidikan Nasional Ciamis, Dr H Aas Shofyani ketika ditemui Antara, Kamis (14/3) membenarkan perihal jumlah siswa yang terancam putus sekolah sebanyak itu. "Malahan sekitar 4.000 siswa kini telah resmi DO, dan kami telah mengupayakan agar jumlah siswa yang DO tidak bertambah terus," sambungnya.

Ia menjelaskan, siswa yang DO maupun yang terancam DO kebanyakan siswa perempuan yang mencapai sekitar 60 persen. Sementara itu, di kabupaten ini juga cukup banyak siswa yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, seperti dari SD ke SLTP, dan dari SLTP ke SLTA.

Menurut Shofyani, banyaknya perempuan yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, adalah karena faktor budaya setempat. Masyarakat beranggapan perempuan tidak perlu sekolah sampai tinggi, karena akhirnya jika sudah berkeluarga kerjanya hanya di dapur.

Dinas Pendidikan Nasional Ciamis dalam menyikapi masalah itu, selain akan mengoptimalkan pendidikan kejar paket A untuk kalangan para DO SD, dan paket B untuk kalangan DO SLTP, juga akan meminta bantuan Dinas Pendidkan Nasional Jabar. (Ant/ima)

Rendah, Kemampuan Baca, Matematika dan IPA Siswa SLTP

Selasa, 01 Juli 2003, 21:31 WIB

Jakarta, Selasa

Kompas.com

Kemampuan membaca, matematika dan sains (IPA) rata-rata siswa usia 15 tahun (SLTP dan SLTA) Indonesia masih menduduki urutan terendah dari 41 negara di dunia. Demikian hasil lembaga penelitian internasional yang diumumkan di Jakarta, Selasa (1/7) sore.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, Bahrul Hayat, Ph.D, selaku ketua Tim peneliti OECD PISA Indonesia mengatakan, penelitian itu dilakukan terhadap 7.355 siswa usia 15 tahun dari 290 SLTP/SMU/SMK se-Indonesia pada 2003.

"Dari hasil penelitian itu, kemampuan membaca siswa RI menduduki urutan ke-39, kemampuan matematika urutan ke-39, kemampuan sains urutan ke-38 dari 41 negara maju dan berkembang yang diteliti oleh lembaga penelitian OECD PISA dukungan Bank Dunia itu," katanya.

Sementara dalam kemampuan membaca, urutan 1-3 diraih Finlandia, Kanada dan Selandia Baru, kemampuan matematika urutan 1-3 diraih oleh Hongkong, Jepang dan Korea Selatan, serta kemampuan sains diraih Korsel, Jepang dan Hongkong.

Menurut Bahrul, rendahnya kemampuan membaca rata-rata siswa RI berdasarkan hampir 69 persen siswa yang diteliti baru berkemampuan tahap-I, yakni sekadar membaca, belum mampu ke tahap-II (interpretatif), tahap-III (refleksi) dan tahap-IV (evaluasi).

Dari penelitian itu, diketahui bahwa 70 persen siswa RI hanya mampu menguasai matematika dan sains sebatas memecahkan satu permasalahan sederhana (tahap-I), belum mampu menyelesaikan dua masalah (tahap-II), belum mampu menyelesaikan masalah kompleks (tahap-III) dan masalah rumit (tahap-IV)

"Dari kelemahan membaca, menguasai matematika dan sains, dapat ditarik kesimpulan, perlunya revisi kurikulum pendidikan agar dapat mendorong siswa meningkatkan kemampuan tiga bidang serta peningkatan SDM para guru," kata Bahrul.

Untuk itu, katanya, Depdiknas segera menyempurnakan kurikulum pendidkan membaca mulai SD-SLTA, dan pengadaan buku teks yang mendorong siswa mampu membaca tidak hanya sekadar membaca tetapi memahami isi, mengevaluasi dan untuk memecahkan masalah sekitar.

Penyempurnaan kurikulum matematika dan sains yang mendorong siswa tidak hanya hafal rumus-rumus, tetapi mampu memecahkan soal yang rumit dan kompleks seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Depdiknas meningkatkan kemampuan mengajar membaca, matematika dan IPA bagi guru SLTP dan SLTA melalui penataran bagi 600 ribu guru SLTP/SLTA se-Indonesia yang sebelumnya didahului tes kemampuan ketiga bidang ilmu itu. (Ant/prim)

Jumlah Kelulusan Siswa Naik 11,304 Persen

Suara Merdeka

Rabu 21 Juni 2006


KENDAL - Persentase jumlah kelulusan siswa SMA/SMK/MA di Kendal yang mengikuti ujian nasional (UN) pada tahun ini meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan kelulusan tersebut 11,304%.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas P dan K Pemkab H Mulyadi Suryokusumo SH MM saat ditemui di kantornya, kemarin. ''Peningkatan itu merupakan prestasi yang diraih hampir semua sekolah. Kendati persyaratan kelulusan pada tahun ini lebih berat, hasil yang dicapai justru semakin baik.''

Peningkatan persentase kelulusan itu, ujar dia, diikuti dengan kenaikan jumlah siswa yang lulus. ''Pada tahun pelajaran 2004/2005 peserta UN dari SMA/SMK/MA 7.585 siswa dengan jumlah siswa lulus 5.667 orang atau 74,71%. Pada tahun pelajaran 2005/2006, peserta 7.672 siswa dengan jumlah kelulusan 6.599 orang atau 86,014%. Dengan demikian, terdapat peningkatan jumlah kelulusan 11,304%.''

Mengoreksi

Lebih lanjut dia mengemukakan, selain prestasi peningkatkan jumlah siswa lulus, sejumlah sekolah bahkan juga bisa membuktikan dapat meluluskan semua siswa dalam ujian tersebut. ''Bahkan, beberapa SMA mampu meluluskan 100% siswa dari berbagai program studi dalam UN.''

Sekolah-sekolah tersebut, antara lain SMAN Weleri, SMAN 1 Kaliwungu, SMAN Boja, dan SMAN 2 Sukorejo (untuk program IPA), SMAN Boja, SMAN 1 Kendal, SMAN 2 Kendal, SMAN Kaliwungu, SMA Theresiana Weleri, serta SMA PGRI 06 Sukorejo (program IPS), SMAN Boja dan SMAN Weleri (program Bahasa). ''SMK yang mampu meluluskan semua siswanya adalah SMK Bina Utama Kendal dan SMA Farming Boja.''

Terkait dengan data kelulusan beberapa sekolah seperti yang telah diberitakan (Suara Merdeka, 20/6), Mulyadi mengatakan, pihaknya telah mengklarifikasi dan mengoreksi kepada sekolah yang bersangkutan. ''Terdapat kekeliruan dalam penyampaian data kelulusan siswa pada beberapa sekolah. Data yang ditampilkan tersebut adalah data kelulusan tahun lalu. Kami sudah mengklarifikasi persoalan ini,'' tandasnya didampingi Wakil Kepala Dinas P dan K Drs H Anton Taufan MPd. (G15-16j)

Banyak Sekolah Swasta Kekurangan Siswa

Sabtu 7 Juli 2007

Kompas.com

Pendidikan

Tegal, Kompas - Penerimaan siswa baru atau PSB sekolah negeri maupun swasta, secara resmi selesai Jumat (6/7). Meskipun demikian, hingga akhir PSB masih banyak SMA dan SMK swasta di Kota Tegal yang kekurangan siswa. Itu akibat sedikitnya jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut.

Ketua PSB SMA Ihsaniyah Kota Tegal Rustiati mengatakan, jumlah calon siswa yang sudah mendaftar ke sekolahnya sebanyak 56 siswa. Menurutnya, jumlah tersebut belum memenuhi target yang ditetapkan sekolah.

Dalam PSB kali ini, SMA Ihsaniyah menargetkan menerima sedikitnya 94 siswa. Itu sesuai dengan jumlah siswa kelas III yang lulus tahun ini. Meskipun demikian, apabila jumlah siswa pendaftar lebih dari itu, sekolah tetap bersedia menampungnya. Pada PSB tahun lalu, jumlah siswa baru yang diterima di SMA Ihsaniyah mencapai sekitar 150 siswa.

Rustiati mengatakan, untuk memenuhi target yang ditetapkan sekolah, pihaknya akan memperpanjang waktu PSB dengan membuka gelombang kedua. PSB gelombang kedua akan dilaksanakan hingga tanggal 14 Juli.

Menurut dia, berdasarkan pengalaman tahun lalu, peningkatan jumlah pendaftar akan terjadi pada PSB gelombang kedua. Siswa yang mendaftar merupakan siswa yang dinyatakan tidak diterima di SMA negeri.

Kondisi serupa juga terjadi di SMA NU Kota Tegal. Menurut Wakil Ketua PSB SMA NU Kota Tegal, Supriyanto, daya tampung siswa baru di sekolahnya sebanyak 80 siswa. Namun, hingga saat ini jumlah pendaftar baru 20 siswa.

Menurutnya, kondisi itu juga terjadi tahun lalu. Pada PSB tahun lalu, jumlah siswa yang mendaftarkan diri ke SMA NU hanya 47 siswa. Ia memperkirakan, dalam PSB tahun ini, jumlah siswa yang mendaftar ke sekolahnya hanya sekitar 40 orang.

Sementara di SMK Dinamika Kota Tegal, jumlah calon siswa baru yang terdaftar juga belum memenuhi target sekolah. Ketua PSB SMK Dinamika Kota Tegal Andi Iman Sukirman mengatakan, hingga saat ini jumlah calon siswa baru yang sudah terdaftar mencapai 253. Padahal, daya tampung sekolah mencapai 400 siswa.

Di Kota Magelang sebanyak 2.931 calon siswa hari ini akan mengikuti tes seleksi penerimaan siswa baru di 11 SMP negeri di Kota Magelang.

Jumlah Siswa SMK di Daerah Meningkat [Nusantara]

Harian umum pelita

www.hupelita.com


Tahun 2008 di beberapa daerah telah terjadi peningkatan jumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana pada saat ini tercatat 2,86 juta siswa dengan jumlah penambahan tahun ini mencapai 1,3 juta siswa.

Untuk tahun ini kita mengalami peningkatan jumlah siswa SMK di berbagai daerah dan ini sudah sesuai dengan harapan pemerintah untuk meningkatkan jumlah sekolah SMK. Bahkan untuk tahun depan targetnya bisa mencapai 3,2 juta siswa, kata Direktur SMK Joko Sutrisno kemarin.

Adapun daerah yang mengalami pertambahan jumlah siswa SMK yang cukup bagus antara lain Solo, Wonogiri, Klaten, Surabaya dan Bandung.
Peningkatan ini dinilai Joko merupakan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Peningkatan jumlah siswa SMK ini saya yakin terkait dengan paradigma masyarakat yang makin realistis terhadap pendidikan, jelasnya.

Selain itu masyarakat juga semakin memahami dengan masuk SMK akan lebih cepat mendapatkan pekerjaan dan itu merupakan solusi yang tepat, dimana pada saat ini masyarakat membutuhkan pekerjaan yang cepat dan dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Di sisi lain SMK membutuhkan pasokan guru dalam jumlah yang cukup besar. Menurut perhitungan kasar, saat ini setidaknya dibutuhkan penambahan 5.000 guru SMK dengan berbagai jenis keterampilan kerja yang siap diterjunkan double shift.
Penambahan tenaga pengajar bagi SMK tersebut diakui Joko merupakan imbas dari membanjirnya peminat masyarakat untuk bersekolah di SMK. Tahun ajaran kali ini terdapat peningkatan jumlah peminat SMK yang sangat signifikan. Tercatat 1,3 juta siswa mendaftar di SMK, jelasnya.

Jumlah tersebut lanjut Joko meningkat 25 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal rasio penambahan jumlah SMK sendiri hingga 2008 baru meningkat 10 persen. Itu artinya semua bangku yang ada di SMK terisi penuh termasuk SMK yang baru berdiri.
Peningkatan jumlah peminat SMK tersebut membutuhkan penambahan jumlah pengajar yang tak sedikit. Jumlah guru SMK sendiri hingga sekarang tercatat 200 ribu guru dimana 130 ribu diantaranya berstatus PNS.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar tersebut, Direktorat Pendidikan Kejuruan melakukan upaya diversifikasi guru SMK. Salah satu caranya adalah dengan merekrut mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan PPL (Praktik Pengenalan Lapangan) untuk menjadi tenaga pengajar SMK.

Program ini kami sebut sebagai KKN tematik. Jadi sambil KKN, mahasiswa diminta menjadi guru di SMK, lanjut Joko. Tahun ajaran ini, ada 8 perguruan tinggi yang sudah mengadakan memo kesepakatan kerja dengan Direktorat Pendidikan Kejuruan untuk melaksanakan program KKN tematik ini.

Yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Universitas Negeri Surakarta (UNS), Universitas Negeri Makasar, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Medan dan Universitas Gajayana Malang. Beberapa jenis keterampilan yang bakal diajarkan oleh mahasiswa ini antara lain pertanian, ekonomi, bisnis, manajemen dan teknologi. Jenis keterampilan tersebut harus dikuasai oleh mahasiswa calon peserta KKN tematik. Menurut Joko, pada tahap pertama KKN Tematik akan menerjunkan 600 mahasiswa. Mereka akan terjun ke lapangan selama 6 bulan berturut-turut. Lalu pada semester berikutnya akan digantikan oleh mahasiswa lainnya.