PEMBELIAN BARANG
Dalam pembelian barang dapat dilihat dari siklus pembeliannya, yaitu dimulai pada saat diketahui adanya kebutuhan untuk suatu bahan baku atau komponen. Informasi mengenai adanya kebutuhan dapat diketahui dari kartu kendali persediaan, gudang, bagian teknik, dan bergantung dari jenis barang.
Sedangkan tanggung jawab utama petugas pembelian yaitu memilih barang yang tepat, pilihan terhadap suatu barang terbatas pada satu pembeli. Apabila barang yang akan dibeli sangat khusus maka pilihan akan terbatas. Pembelian dilakukan dari penawaran yang terendah yang memenuhi persyaratan kualitas dan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan selanjutnya dalam siklus pembelian yaitu surat pesanan disampaikan pada penjual. Dan setelah penjual yang dipilih menerima pesanan, maka ia diharapkan akan memberikan suatu informasi bahwa barang tersebut telah diterima serta melampirkan konfirmasi mengenai harga dan waktu penyerahan. Riancian harga khusus dicocokkan lagi dengan penawaran semula, apabila terdapat perbedaan petugas pembelian segera bertindak.
Dalam pembelian barang dapat juga dikatakan sebagai suatu mini proyek, oleh karena itu pesan pembelian harus dilengkapi dengan spesifikasi. Di dalam spesifikasi ada 3 hal yang harus diperhatikan, diantaranya :
1. Anggaran harga barang.
2. Tanggal penyerahan,
3. Uraian lengkap mengenai barang tersebut.
Jika orang pertama membuat permohonan pembelian tidak memberikan rincian spesifikasi mengenai barang, maka bagian pembelian tidak akan melayani permintaannya, sedangkan spesifikasi harga dan tanggal penyerahan tidak merupakan masalah. Seperti pembeli hanya mengacu pada anggaran proyek atau dengan mengetahui kedaan harga barang dipasaran.
Spesifikasi komponen dan barang biasanya dinyatakan dengan nomor katalog atau nomor komponen yang digunakan pebrik pembuatnya. Tapi perlu diingat bahwa pabrik pembuat secara tiba-tiba bisa melakukan perubahan desainnya tanpa pemberian terlebih dahulu. Perobahan tersebut bisa kecil, bisa juga besar yang menyebabkan barang tersebut tidak terpakai lagi di dalam proyek.
Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui spesifikasi barang sebelum dibeli dengan memperhatikan beberapa hal diantaranya :
1. Mengenali spesifikasi barang secara teliti dimana spesifikasi barang-barang secara tepat dapat dinyatakan dalam spesifikasi baku.
2. Melakukan pemesanan berencana, di mana pesanan barang tidak boleh dilakukan secara dini dalam program dan dalam mengambil suatu keputusan seperti keputusan untuk menunda penerbitan perintah pembelian harus dilakukan dengan hati-hati dan harus tersedia cukup banyak waktu untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menjamin barang yang diperlukan yaitu melakukan pemberitahuan pendahuluan kepada penjual mengenai pembelian. Pemesanan barang sedapatnya harus diusahakan atas dasar panggilan terencana. Apabila harga barang tersebut murah biasanya pembelian agak dilebihkan tetapi pembelian barang tersebut atas dasar terencana yang teliti. Pada umumnya pada saat prioyek selalu ada satu dua barang menonjol, baik karena besarnya atau karena mahalnya.
Macam-macam situasi pembelian
1. Perilaku responsi rutin
Jenis perilaku yang paling sederhana terdapat dalam suatu pembelian yang berharga murah dan sering dilakukan. Dalam hal ini pembeli sudah memahami merk beserta atributnya.. Mereka tidak selalu membeli merk yang sama karena dipengaruhi oelh kehabisan persediaan dan sebab lain. Tetapi pada umumnya pembelian dilakukan secara rutin tidak memerlukan banyak pikiran, tenaga, dan waktu.
Oleh karena itu perusahaan harus menyesuaikan kegiatan pemasarannya dengan keadaan tersebut untuk mempertahankan langganannya.
2. Penyelesaian masalah terbatas
Pembelian akan lebih kompleks jika pembeli tidak mengetahui sebuah merk dalam suatu jenis produk yang disukai sehingga membutuhkan informasi lebih banyak lagi sebelum memutuskan untuk membeli.
3. Penyelesaian masalah ekstensi
Suatu pembelian akan menjadi sangat kompleks jika pembeli menjumpai jenis produk yang kurang dipahami dan tidak mengetahui kriteria penggunanya.
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kegiatan pengumpulan informasi dan evaluasi dari pembeli dan menunjang proses belajar pembeli terhadap atribut kelompok produk tersebut.
Struktur keputusan membeli
Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli merupakan kumpulan dari keputusan. Setiap keputusan membeli mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh komponen diantaranya :
1. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah barang menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang lain yang berminat membeli baran.
2. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli barang tertentu. Keputusan tersebut menyangkut ukuran, mutu barang, corak, dsb. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk bersangkutan agar dapat memaksimumkan daya tarik merknya.
3. Keputusan tentang merk
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merk mana yang akan dibeli. Setiap merk memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merk.
4. Keputusan tentang penjualnya
Konsumen harus mengambil keputusan di mana barang tersebut akan dibeli apakah di toko serba ada, atau toko khusus barang yanga kan dibeli dsb. Dalam hal ini produsen, pedagang besar, dan pengecer harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
5. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.
6. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. Oleh karena itu perusahaan harus mengetahui faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam penentuan waktu pembelian. Dengan demikian perusahaan dapat mengatur waktu produksi dan kegiatan pemasaran.
7. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembeyaran produk yang dibeli apakah secara tunai atau cicilan. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui keinginan pembelian terhadap cara pembayarannya.
Dalam suatu pembelian barang keputusan yang harus diambil tidak selalu berurutan seperti di muka. Pada situasi pembelian seperti penyelesaian masalah ekstensif keputusan yang diambil dapat bermula dari keputusan tentang penjual karena penjual dapat membantu memuaskan perbedaan diantara bentuk dan merk produk.
Tahap-tahap dalam proses pembelian
Perilaku konsumen akan mentukan proses pengambilan keputusan dalam bembelian mereka. Proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah yang terdiri atas enam tahap yaitu :
1. Menganalisa keinginan dan kebutuhan
Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujukan terutama untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan.
Adanya kebutuhan yang belum terpenuhi sering diketahui secara tiba-tiba pada saat konsumen sedang berjalan ke took, berbelanja, atau pada saat memperoleh informasi dari sebuah iklan, media lain, tetangga, ataupun kawan.
2. Menilai sumber-sumber
Tahap ke dua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli. Jika jumlah uang yang tersedia tiodak begitu banyak , sedangkan kebutuhan cukup besar maka konsumen akan lebih menyukai pembelian secara kredit . Jika produk yang dibeli memerlukan jumlah uang yang cukup besar biasanya diperlukan waktu yang agak lama di dalam mempertimbangkan pembeliannya.
3. Menetapkan tujuan pembelian
Tujuan pembelian bagi konsumen tidak selalu sama tergantung pada jenis produk dan kebutuhannya. Ada konsumen yang mempunyai tujuan pembelian untuk meningkatkan prestise. Ada yang hanya sekedar ingin memenuhi kebutuhan jangka pendek, dan ada juga yang ingin meningkatkan pengetahuan.
4. Mengidentifikasi alternative pembelian
Setelah tujuan pembelian ditetapkan konsumen perlu mengidentifikasikan alternative pembeliannya. Pengidentifikasian alternative pembelian tidak dapat terpisah dari pengaruh sumber yang dimilki maupun resiko keliru dalam pemilihan.
5. Keputusan membeli
Setelah tahap di muka dilakukan sekarang tiba saatnya bagi pembeli untuk mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika dianggap keputusan diambil adalah membeli, maka pembeli akan menjumpai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk, penjual, kuantitas, waktu pembelian, dan cara pembeyarannya.
6. Perilaku sesudah pembelian
Semua tahap yang ada di dalam proses pembelian sampai dengan tahap ke lima adalah bersifat operatif.Bagi perusahaan perasaan dan perilaku sesudah pembelian juga sangat penting. Ada kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidak sesuaian sesudah ia melakukan pembelian karena mungkin harganya dianggap terlalu mahal atau mungkin tidak sesuai keinginan atau gambaran sebelumnya. Untuk mengurangi ketidak sesuaian perusahaan dapat bertindak dengan menekankan segi-segi tertentu dari produknya.
Hubungan antara faktor yang mempengaruhi perilaku pembeli dapat ditinjau dalam sebuah model Howard Seth. Model ini dapat diapakai untuk membantu dalam menerangkan dan memahami perilaku meskipun tidak dapat meramalkan perilaku pembeli secara tepat. Model Howard Seth tentang perilaku pembeli berisi empat elemen pokok yaitu :
1. Bahan/input
Sebagai bahan untuk model ini adalah berupa dorongan dari sumber pemasaran dan lingkungan sosial. Banyak sekali informasi dari berbagai macam merk yang berkaitan dengan harga, kualitas, ketersediaan, pelayanan.
2. Proses/intern
Proses intern dari pembeli digolongkan dalam dua bagian yiatu pengamatan dan belajar. Kedua variabel tersebut mempunyai susunan yang berurutan. Seorang dapat belajar dari suatu pengamatan lebih dahulu.
3. Hasil/output
Sebagai hasil dari model ini adalah keputusan untuk membeli. Bagi menejer yang penting adalah memperkirakan keputusan membeli dari konsumen tidak hanya saat itu saja, tetapi juga untuk waktu mendatang.
4. Pengaruh eksogen
Dalam model ini variabel eksogen yang ikut mempengaruhi perilaku pembeli meskipun pengaruhnya tidak begitu besar. Variabel eksogen tersebut adalah :
1. Pentingnya pembelian
2. Status keuangan
3. Sifat kepribadian
4. Batasan waktu
5. Klas sosial
6. Kebudayaan
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa model Howard Seth menitik beratkan pada pembelian ulang dan menggambarkan dinamika perilaku pembelian selama satu periode. Model tersebut memperlihatkan bahwa seseorang mempunyai motif, pandangan, dan dapat mengambil keputusan melalui proses belajar. Dengan dilakukannya pembelian ulang, maka proses keputusannya menjadi lebih sederhana.
Tampilkan postingan dengan label 3. Manajemen Sarana Prasarana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. Manajemen Sarana Prasarana. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Desember 2009
Minggu, 31 Mei 2009
UN harus dikuti peningkatan sarana dan prasarana sekolah
Senin, 7 April 2008 | 15:44 WIB
JAKARTA, SENIN - Ujian Nasional (UN) sebagai standar mutu pendidikan hendaknya diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta tenaga guru. Jika tidak standar mutu yang ditetapkan selalu minimalis. Demikian komentar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat terhadap UN saat ditemui dalam acara peluncuran Program Open, Distance and E-Learning untuk Transformasi Masyarakat Islam Melalui Pesantren di Hotel Nikko, Jakarta, Senin (7/4).
"Menurut saya jika penetapan standar tidak diikuti fasilitas sarana dan guru, maka implikasinya UN standarnya tidak naik-naik, selalu minimalis, selalu kalah bersaing dengan negara lain," kata Komarrudin.
Penyelenggaraan UN tanpa melengkapi sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia, lanjut Komarrudin juga merupakan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas dan tenaga guru yang memadai. "Seperti sekolah-sekolah di daerah terpencil yang bangunannya tidak layak, gurunya cuma satu, sekolahnya bocor, kalau diperlakukan sama, yah kasihan," katanya.
Saat ditanya tentang pro kontra UN dijadikan sebagai syarat kelulusan, Komarrudin menjawab, "Karena (UN) sudah berjalan, kita ikuti saja, lalu disurvei plus-minusnya. Kalau saya belum bisa (memilih pro atau kontra) karena saya belum punya data-data yang akurat. Kita nggak bisa ngomong pernyataan politik tanpa ada data yang akurat, kalau selama ini kecenderungan orang kan hanya opini."
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan saat ini tidak ada keresahan dalam masyarakat mengenai UN, semua pihak mendukung. "Tidak ada keresahan, yang ada kesigapan. Saya baca dimana-mana, baik koran pusat dan daerah, pemerintah daerah maupun orang tua supaya memberikan dukungan yang resahkan cuma wartawan," ujarnya.
JAKARTA, SENIN - Ujian Nasional (UN) sebagai standar mutu pendidikan hendaknya diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta tenaga guru. Jika tidak standar mutu yang ditetapkan selalu minimalis. Demikian komentar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat terhadap UN saat ditemui dalam acara peluncuran Program Open, Distance and E-Learning untuk Transformasi Masyarakat Islam Melalui Pesantren di Hotel Nikko, Jakarta, Senin (7/4).
"Menurut saya jika penetapan standar tidak diikuti fasilitas sarana dan guru, maka implikasinya UN standarnya tidak naik-naik, selalu minimalis, selalu kalah bersaing dengan negara lain," kata Komarrudin.
Penyelenggaraan UN tanpa melengkapi sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia, lanjut Komarrudin juga merupakan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas dan tenaga guru yang memadai. "Seperti sekolah-sekolah di daerah terpencil yang bangunannya tidak layak, gurunya cuma satu, sekolahnya bocor, kalau diperlakukan sama, yah kasihan," katanya.
Saat ditanya tentang pro kontra UN dijadikan sebagai syarat kelulusan, Komarrudin menjawab, "Karena (UN) sudah berjalan, kita ikuti saja, lalu disurvei plus-minusnya. Kalau saya belum bisa (memilih pro atau kontra) karena saya belum punya data-data yang akurat. Kita nggak bisa ngomong pernyataan politik tanpa ada data yang akurat, kalau selama ini kecenderungan orang kan hanya opini."
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan saat ini tidak ada keresahan dalam masyarakat mengenai UN, semua pihak mendukung. "Tidak ada keresahan, yang ada kesigapan. Saya baca dimana-mana, baik koran pusat dan daerah, pemerintah daerah maupun orang tua supaya memberikan dukungan yang resahkan cuma wartawan," ujarnya.
Tim PKK Lamongan bantu sarana pendidikan TK
Selasa, 10 Juni 2008 | 16:07 WIB
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
LAMONGAN, SELASA - Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga Selasa (10/6) memberikan bantuan bantuan dana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak di Kecamatan Karanggeneng. Bantuan yang diberikan berupa mainan mandi bola dan cangkir putar serta bantuan pada Posyandu di Desa Mertani.
Bantuan kali ini diberikan kepada (TK) Mekar Sari di Desa Kawistolegi dan TK Jaya di Desa Jagran. Bantuan dana untuk penggadaan alat peraga diberikan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nusa Indah di Desa Kawistolegi. Selain itu bantuan diberikan untu k TK PKK Sejahtera dan bantuan dana perbaikan dan pembinaan kulintang PKK di Desa Mertani.
Sebelumnya Tim Penggerak PKK Lamongan juga telah memberikan bantuan serupa di Kecamatan Babat dan Modo. Ketua penggerak PKK Endang Ridjanti Masfuk berharap dengan bantuan tersebut anak-anak TK lebih semangat dan senang belajar. Dengan bantuan sarana perma inan diharapkan anak-anak TK lebih dapat ditingkatkan kreatifitas dan kecerdasan berpikirnya.
Bantuan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi PKK terhadap pendidikan dini dan komitmen meningkatkan pendidikan di Lamongan. "Masa taman kanak-kanak merupakan masa keemasan anak dan peran pendidikan begitu besar dalam membentuk anak didik. Maka kami m emberikan dukungan pendidikan berupa dana pengadaan sarana dan prasarana untuk TK, " kata Endang.
Minim perpustakaan di tingkat dasar
Kompas/LASTI KURNIA
/
Selasa, 13 Januari 2009 | 22:52 WIB
JAKARTA, SELASA - Fasilitas perpustakaan sebagai salah satu sarana dan prasarana di sekolah yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan masih rendah. Kondisi perpustakaan yang memprihatinkan, baik soal ruangan perpustakaan maupun koleksi buku-buku yang tersedia, justru terjadi di tingkat pendidikan dasar.
Dari data Departemen Pendidikan Nasional, pada 2008 tercatat baru 32 persen SD yang memiliki perpustakaan, sedangkan di tingkat SMP sebanyak 63,3 persen. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan ruang perpustakaan di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar sekitar 10 persen.
Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, di Jakarta, Selasa (13/1), mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai standar nasional merupakan tanggung jawab pemerintah. Masyarakat bisa menuntut pemerintah pusat dan daerah jika terjadi kesenjangan mutu pendidikan akibat sarana dan prasarana yang timpang di antara perkotaan dan pedesaan atau di antara sekolah-sekolah yang ada.
Perpustakaan yang merupakan salah satu tempat untuk siswa dan guru mencari sumber belajar belum dianggap penting. Keberadaan perpustakaan hanya sekadar memenuhi syarat tanpa memperhatikan bagaimana seharusnya fasilitas perpustakaan disediakan dan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan guru untuk menumbuhkan minat baca.
Abbas Ghozali, Ketua Tim Ahli Standar Biaya Pendidikan Badan Standar Nasional Pendidikan, mengatakan pendidikan dasar di Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk menjadi prioritas pemerintah masih berlangsung ala kadarnya. Pemerintah masih berorientasi pada menegejar angka statistik soal jumlah anak usia wajib belajar yang bersekolah, sedangkan mutu pendidikan dasar masih minim.
Padahal, soal sarana dan prasarana pendidikan di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar nasional sarana dan prasarana. Peraturan ini memberi arah soal keberadaan perpustakaan di setiap sekolah.
/
Selasa, 13 Januari 2009 | 22:52 WIB
JAKARTA, SELASA - Fasilitas perpustakaan sebagai salah satu sarana dan prasarana di sekolah yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan masih rendah. Kondisi perpustakaan yang memprihatinkan, baik soal ruangan perpustakaan maupun koleksi buku-buku yang tersedia, justru terjadi di tingkat pendidikan dasar.
Dari data Departemen Pendidikan Nasional, pada 2008 tercatat baru 32 persen SD yang memiliki perpustakaan, sedangkan di tingkat SMP sebanyak 63,3 persen. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan penambahan ruang perpustakaan di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan dasar sekitar 10 persen.
Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, di Jakarta, Selasa (13/1), mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai standar nasional merupakan tanggung jawab pemerintah. Masyarakat bisa menuntut pemerintah pusat dan daerah jika terjadi kesenjangan mutu pendidikan akibat sarana dan prasarana yang timpang di antara perkotaan dan pedesaan atau di antara sekolah-sekolah yang ada.
Perpustakaan yang merupakan salah satu tempat untuk siswa dan guru mencari sumber belajar belum dianggap penting. Keberadaan perpustakaan hanya sekadar memenuhi syarat tanpa memperhatikan bagaimana seharusnya fasilitas perpustakaan disediakan dan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan guru untuk menumbuhkan minat baca.
Abbas Ghozali, Ketua Tim Ahli Standar Biaya Pendidikan Badan Standar Nasional Pendidikan, mengatakan pendidikan dasar di Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk menjadi prioritas pemerintah masih berlangsung ala kadarnya. Pemerintah masih berorientasi pada menegejar angka statistik soal jumlah anak usia wajib belajar yang bersekolah, sedangkan mutu pendidikan dasar masih minim.
Padahal, soal sarana dan prasarana pendidikan di setiap sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar nasional sarana dan prasarana. Peraturan ini memberi arah soal keberadaan perpustakaan di setiap sekolah.
Sarana pendidikan di kulon progo jauh tertinggal
Kompas
Sabtu, 14 Oktober 2006 Infrastruktur
Kulon Progo, Kompas - Dibandingkan dengan daerah lain di DI Yogyakarta, sarana pendidikan di Kulon Progo masih jauh tertinggal, baik segi fisik bangunan maupun sarana lainnya. Selama ini dana sarana pendidikan hanya bergantung pada anggaran pemerintah karena masih minimnya kontribusi NGO atau lembaga donor ke kabupaten tertinggal tersebut.
Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Kulon Progo Sigit Wisnutomo, Jumat (13/10), mengatakan hanya ada satu bantuan dari NGO, yakni dari Swiss ke SMP 1 Galur sebesar Rp 250 juta. "Sebenarnya banyak NGO yang ke sini tetapi hanya sebatas kegiatan penelitian saja. Belum banyak yang berkontribusi dalam pengadaan sarana pendidikan," katanya.
Menurut Sigit, sebagian besar bangunan sekolah di Kulon Progo sudah tidak layak pakai dan butuh rehab segera, terutama gedung SD. Tidak mengherankan jika saat gempa 27 Mei lalu tercatat 213 gedung SD yang rusak. Namun, dari data keseluruhan tersebut masih ada 169 gedung SD yang sumber dana rehabnya belum jelas.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana TK/SD Dinas Pendidikan Kulon Progo Sapturyani mengemukakan, 20 gedung SD di antaranya akan menerima dana rehab masing-masing sekitar Rp 800 juta dari Pemprov DIY. Selain gedung yang rusak akibat gempa, masih ada 104 gedung SD yang butuh segera direhab. Jarang tersentuh
Kepala Biro Kerjasama Pemerintah Provinsi DIY Sudaryomo Hartosudarmo mengakui Kulon Progo jarang tersentuh bantuan. Selama ini bantuan dari luar mayoritas tersalur ke Bantul. Padahal, pemerintah sudah menginformasikan ke pihak yang akan membantu bahwa semua kabupaten/kota di DIY juga terkena dampak bencana gempa.
"Tetapi, karena kita ada di pihak penerima, tidak etis kalau memaksakan donatur membantu di satu wilayah. Dan, perlu diketahui, hampir semua donatur luar negeri tahunya ya Bantul," ujarnya. Kendati demikian, pemerintah daerah tetap bisa mengubah rencana penyaluran bantuan dari luar. Namun, itu mesti dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak. (ENY/ONI)
Sabtu, 14 Oktober 2006 Infrastruktur
Kulon Progo, Kompas - Dibandingkan dengan daerah lain di DI Yogyakarta, sarana pendidikan di Kulon Progo masih jauh tertinggal, baik segi fisik bangunan maupun sarana lainnya. Selama ini dana sarana pendidikan hanya bergantung pada anggaran pemerintah karena masih minimnya kontribusi NGO atau lembaga donor ke kabupaten tertinggal tersebut.
Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Kulon Progo Sigit Wisnutomo, Jumat (13/10), mengatakan hanya ada satu bantuan dari NGO, yakni dari Swiss ke SMP 1 Galur sebesar Rp 250 juta. "Sebenarnya banyak NGO yang ke sini tetapi hanya sebatas kegiatan penelitian saja. Belum banyak yang berkontribusi dalam pengadaan sarana pendidikan," katanya.
Menurut Sigit, sebagian besar bangunan sekolah di Kulon Progo sudah tidak layak pakai dan butuh rehab segera, terutama gedung SD. Tidak mengherankan jika saat gempa 27 Mei lalu tercatat 213 gedung SD yang rusak. Namun, dari data keseluruhan tersebut masih ada 169 gedung SD yang sumber dana rehabnya belum jelas.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana TK/SD Dinas Pendidikan Kulon Progo Sapturyani mengemukakan, 20 gedung SD di antaranya akan menerima dana rehab masing-masing sekitar Rp 800 juta dari Pemprov DIY. Selain gedung yang rusak akibat gempa, masih ada 104 gedung SD yang butuh segera direhab. Jarang tersentuh
Kepala Biro Kerjasama Pemerintah Provinsi DIY Sudaryomo Hartosudarmo mengakui Kulon Progo jarang tersentuh bantuan. Selama ini bantuan dari luar mayoritas tersalur ke Bantul. Padahal, pemerintah sudah menginformasikan ke pihak yang akan membantu bahwa semua kabupaten/kota di DIY juga terkena dampak bencana gempa.
"Tetapi, karena kita ada di pihak penerima, tidak etis kalau memaksakan donatur membantu di satu wilayah. Dan, perlu diketahui, hampir semua donatur luar negeri tahunya ya Bantul," ujarnya. Kendati demikian, pemerintah daerah tetap bisa mengubah rencana penyaluran bantuan dari luar. Namun, itu mesti dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak. (ENY/ONI)
Perpustakaan sebagai sarana penunjang tercapainya tujuan pendidikan
Oleh : Hartati, S.Pd.
Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Kita melihat kemajuan dunia yang berputar semakin pesat, teknologi semakin maju dan pembangunan yang hebat telah dikerjakan oleh sementara orang. Dalam hal ini manusia bukan sekedar sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek pembangunan. Untuk itu melalui profesi perpustakaan kita ikut ambil bagian dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pembanguan adalah masalah teknologi. Dan teknologi adalah informasi. Sedangkan informasi adalah masalah perpustakaan. Demikianlah urutan yang dapat kami simpulkan. Tidak mungkin kita memiliki teknologi canggih kalau kita tidak memiliki informasinya. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang kita perlukan. Informasi dari berbagi teknologi yang kita perlukan dalam pembangunan tersebut harus menyertainya, kalau tidak teknologi tersebut akan cacat. Dan jika demikian pembangunan akan gagal. Kita mamiliki sebuah televise yang canggih, tetapi tidak ada informasi yang menyertainya, kemungkinan kita akan memperoleh kesulitan kalau ingin mengganti sparepart, atau ingin memainkan video, karena buku petunjuknya tidak ada. Karena itu informasi harus menyertai sebuah teknologi. Kadang-kadang kita enggan menyimpan informasi demi informasi, sebab kalau kita kumpulkan semakin banyak semakin menjadi beban. Sebaiknya berbagi informasi itu dikumpulkan di sebuah tampat yang disebut sebagi perpustakaan. Sumber informasi di perpustakaan diolah dan diatur sehingga mudah menemukan kembali untuk dipakai, walaupun perpustakaan masih kecil sumber informasinya tetap kita olah sesuai dengan standar, dan akhirnya jika perpustakaan menjadi besar, layanan akan tetap baik dan lancar.
Dalam hal ini kita sorot keberadaan perpustakaan sekolah, sebagai suatu lembaga yang akan memberikan dasar dari segala dasar. Perpustakaan sekolah diharapkan dapat menemukan kembali mutu pendidikan dasar, menjadi dasar bagi pendidikan berikutnya atau menjadi bekal utama dalam menempuh kehidupan. Kita sering mendengar mutu guru yang demikian merosot. Mutu tersebut dapat kita naikkan jika kita mau menengok ke perpustakaan, disana ada harapan. Dari perpustakaan sekolah ini diharapkan guru mau belajar lagi membaca apa yang berhubungan dengan masalah belajar mengajar. Berbagi metode mengajar yang paling efektif untuk masa kini. Di perpustakaan sekolah anak dapat mengembangkan minat mereka, mencari bacaan yang memperkaya pengalaman melalui bacaaan yang tersedia. Melalui perpustakaan sekolah diharapkan anak dapat mengembangkan ketrampilan untuk mencari informasi guna keperluan mereka secara mandiri. Mereka kita berikan wawasan mengenai “era informasi”, “era globalisasi”. Kita berikan cara mengatasi hidup di dalam kedua era tersebut.dan dalam hal ini perpustakaan menjawab kedua tantangan tersebut.
Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Kita melihat kemajuan dunia yang berputar semakin pesat, teknologi semakin maju dan pembangunan yang hebat telah dikerjakan oleh sementara orang. Dalam hal ini manusia bukan sekedar sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek pembangunan. Untuk itu melalui profesi perpustakaan kita ikut ambil bagian dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pembanguan adalah masalah teknologi. Dan teknologi adalah informasi. Sedangkan informasi adalah masalah perpustakaan. Demikianlah urutan yang dapat kami simpulkan. Tidak mungkin kita memiliki teknologi canggih kalau kita tidak memiliki informasinya. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang kita perlukan. Informasi dari berbagi teknologi yang kita perlukan dalam pembangunan tersebut harus menyertainya, kalau tidak teknologi tersebut akan cacat. Dan jika demikian pembangunan akan gagal. Kita mamiliki sebuah televise yang canggih, tetapi tidak ada informasi yang menyertainya, kemungkinan kita akan memperoleh kesulitan kalau ingin mengganti sparepart, atau ingin memainkan video, karena buku petunjuknya tidak ada. Karena itu informasi harus menyertai sebuah teknologi. Kadang-kadang kita enggan menyimpan informasi demi informasi, sebab kalau kita kumpulkan semakin banyak semakin menjadi beban. Sebaiknya berbagi informasi itu dikumpulkan di sebuah tampat yang disebut sebagi perpustakaan. Sumber informasi di perpustakaan diolah dan diatur sehingga mudah menemukan kembali untuk dipakai, walaupun perpustakaan masih kecil sumber informasinya tetap kita olah sesuai dengan standar, dan akhirnya jika perpustakaan menjadi besar, layanan akan tetap baik dan lancar.
Dalam hal ini kita sorot keberadaan perpustakaan sekolah, sebagai suatu lembaga yang akan memberikan dasar dari segala dasar. Perpustakaan sekolah diharapkan dapat menemukan kembali mutu pendidikan dasar, menjadi dasar bagi pendidikan berikutnya atau menjadi bekal utama dalam menempuh kehidupan. Kita sering mendengar mutu guru yang demikian merosot. Mutu tersebut dapat kita naikkan jika kita mau menengok ke perpustakaan, disana ada harapan. Dari perpustakaan sekolah ini diharapkan guru mau belajar lagi membaca apa yang berhubungan dengan masalah belajar mengajar. Berbagi metode mengajar yang paling efektif untuk masa kini. Di perpustakaan sekolah anak dapat mengembangkan minat mereka, mencari bacaan yang memperkaya pengalaman melalui bacaaan yang tersedia. Melalui perpustakaan sekolah diharapkan anak dapat mengembangkan ketrampilan untuk mencari informasi guna keperluan mereka secara mandiri. Mereka kita berikan wawasan mengenai “era informasi”, “era globalisasi”. Kita berikan cara mengatasi hidup di dalam kedua era tersebut.dan dalam hal ini perpustakaan menjawab kedua tantangan tersebut.
Rencana pemanfaatan dan pengembangan laboratorium komputer
sumber Daryani’s blog
22 Desember 2008
1. Pentingnya pemanfaatan dan pengembangan Laboratorium Komputer.
a. Diharapkan dapat menfasilitasi pengembangan mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sebagai bagian dasar pemanfaatan teknologi untuk mempersiapkan peserta didik yang memadai agar dimasa depan dapat berperan sebagai kontribusi dari penguasaan komputer.
b. Untuk menunjang proses pembelajaran yang bermutu, teratur dan berkelanjutan.
c Meningkatkan pengalaman dan keterampilan dalam mengimplementasikan penguasaan komputer pada mata pelajaran lainnya.
d. Memberikan dampak kepada siswa untuk lebih terampil mengkomunikasikan teori dengan praktik dalam PBM.
e. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui praktik-praktik lapangan.
2. Rencana pemanfaatan dan pengembangan jangka panjang.
a. Membantu siswa agar lebih mudah dalam mempelajarai fungsi, prinsip dan cara kerja komputer.
b. Mengoptimalkan pemnafaatan alat kepada semua peserta didik dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
c. Memelihara, menambah dan mengembangkan alat untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan teknologi.
3. Rencana pemanfaatan jangka menengah
a. Jika komputer terhubung dengan internet akan menjadi salah satu sumber belajar sebagai sarana untuk mengakses informasi, sebagai model pembelajaran berwawasan ke depan yang sangat bermanfaat.
b. Semua peserta didik diharapkan dapat menggunakan alat-alat dan memanfaatkan alata-alat secara optimal serta dapat mengkomunikasikan dengan keadaan nyata
c. Dengan penguasaan komputer membantu peserta didik dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
d. Dengan penguasaan komputer membantu peserta didik menvisualisasikan materi-materi pelajaran.
4. Rencana pemanfaatan dan pengembangan tahun 2008.
a. Laboran atau teknisi : Mengikutsertakan laboran dalam pelatihan-pelatihan/Workshop
b. PBM : Mengimplementasikan dan memanfaatkan secara optimal semua alat dalam kegiatan interaksi belajar mengajar
c. Sumber dan bahan belajar : Meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber belajar dan bahan ajar untuk ketercapaian output yang bermutu.
22 Desember 2008
1. Pentingnya pemanfaatan dan pengembangan Laboratorium Komputer.
a. Diharapkan dapat menfasilitasi pengembangan mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sebagai bagian dasar pemanfaatan teknologi untuk mempersiapkan peserta didik yang memadai agar dimasa depan dapat berperan sebagai kontribusi dari penguasaan komputer.
b. Untuk menunjang proses pembelajaran yang bermutu, teratur dan berkelanjutan.
c Meningkatkan pengalaman dan keterampilan dalam mengimplementasikan penguasaan komputer pada mata pelajaran lainnya.
d. Memberikan dampak kepada siswa untuk lebih terampil mengkomunikasikan teori dengan praktik dalam PBM.
e. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui praktik-praktik lapangan.
2. Rencana pemanfaatan dan pengembangan jangka panjang.
a. Membantu siswa agar lebih mudah dalam mempelajarai fungsi, prinsip dan cara kerja komputer.
b. Mengoptimalkan pemnafaatan alat kepada semua peserta didik dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
c. Memelihara, menambah dan mengembangkan alat untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan teknologi.
3. Rencana pemanfaatan jangka menengah
a. Jika komputer terhubung dengan internet akan menjadi salah satu sumber belajar sebagai sarana untuk mengakses informasi, sebagai model pembelajaran berwawasan ke depan yang sangat bermanfaat.
b. Semua peserta didik diharapkan dapat menggunakan alat-alat dan memanfaatkan alata-alat secara optimal serta dapat mengkomunikasikan dengan keadaan nyata
c. Dengan penguasaan komputer membantu peserta didik dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
d. Dengan penguasaan komputer membantu peserta didik menvisualisasikan materi-materi pelajaran.
4. Rencana pemanfaatan dan pengembangan tahun 2008.
a. Laboran atau teknisi : Mengikutsertakan laboran dalam pelatihan-pelatihan/Workshop
b. PBM : Mengimplementasikan dan memanfaatkan secara optimal semua alat dalam kegiatan interaksi belajar mengajar
c. Sumber dan bahan belajar : Meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber belajar dan bahan ajar untuk ketercapaian output yang bermutu.
Dongeng juga sarana pendidikan anak-anak
04-Jun-2006 03:58:31
www.monitordepok.com/pdf/edukasi
DEPOK, MONDE: Dongeng merupakan sarana pembelajaran yang bagus untuk melatih anak dan juga
perkembangan jiwa anak, dengan dongeng anak bisa lebih memiliki rasa syukur, rasa cinta dan rasa
pertemanan yang baik pada anak.
Hal itu diungkapkan Rini selaku pendongeng yang bermukim di Depok, kemarin.
Dongeng merupakan kesenian bercerita yang hampir saja punah, karena saat ini anak-anak lebih banyak
terhibur oleh acara-acara di televisi yang notabene bukan acara khusus untuk anak-anak.
Ia mengatakan kecintaannya terhadap dongeng sudah sejak lama, wujud dari kecintannya ia membuka
rumah dongeng dengan nama Koloni Kepik. Tujuan dari dibukanya rumah dongeng tersebut adalah sebagai
wadah untuk anak-anak mengenal dunia dongeng kembali.
Rini menjelaskan rumah dongeng yang dibukanya tidak dimanfaatkan sebagai bisnis, ia tidak ingin
memanfaatkan atau pun mengeksploitasi anak-anak dengan talenta yang dimiliki.
“Kalaupun ada yang memanggil saya, saya akan datang walaupun tidak dibayar, karena rumah dongeng ini
tidaklah bersifat bisnis, tetapi bersifat sosial dimana mengenalkan kembali dongeng kepada anak-anak yang
selama ini lebih banyak mendapatkan hiburan bukan khusus anak-anak,” ia menjelaskan
Ibu empat anak inipun selalu memberikan cerita dongeng kepada anak-anaknya, ia mengatakan Banyak
sekali manfaat anak mendengar dongeng, dongeng bisa membantu perkembangan anak, dan dengan
dongeng anak bisa melihat ekspresi si pendongeng dan membuat imajinasi anak bermain.(m-3)
www.monitordepok.com/pdf/edukasi
DEPOK, MONDE: Dongeng merupakan sarana pembelajaran yang bagus untuk melatih anak dan juga
perkembangan jiwa anak, dengan dongeng anak bisa lebih memiliki rasa syukur, rasa cinta dan rasa
pertemanan yang baik pada anak.
Hal itu diungkapkan Rini selaku pendongeng yang bermukim di Depok, kemarin.
Dongeng merupakan kesenian bercerita yang hampir saja punah, karena saat ini anak-anak lebih banyak
terhibur oleh acara-acara di televisi yang notabene bukan acara khusus untuk anak-anak.
Ia mengatakan kecintaannya terhadap dongeng sudah sejak lama, wujud dari kecintannya ia membuka
rumah dongeng dengan nama Koloni Kepik. Tujuan dari dibukanya rumah dongeng tersebut adalah sebagai
wadah untuk anak-anak mengenal dunia dongeng kembali.
Rini menjelaskan rumah dongeng yang dibukanya tidak dimanfaatkan sebagai bisnis, ia tidak ingin
memanfaatkan atau pun mengeksploitasi anak-anak dengan talenta yang dimiliki.
“Kalaupun ada yang memanggil saya, saya akan datang walaupun tidak dibayar, karena rumah dongeng ini
tidaklah bersifat bisnis, tetapi bersifat sosial dimana mengenalkan kembali dongeng kepada anak-anak yang
selama ini lebih banyak mendapatkan hiburan bukan khusus anak-anak,” ia menjelaskan
Ibu empat anak inipun selalu memberikan cerita dongeng kepada anak-anaknya, ia mengatakan Banyak
sekali manfaat anak mendengar dongeng, dongeng bisa membantu perkembangan anak, dan dengan
dongeng anak bisa melihat ekspresi si pendongeng dan membuat imajinasi anak bermain.(m-3)
Dampak dan manfaat internet bagi perkembangan pendidikan
November 21st, 2008
DAMPAK DAN MANFAAT INTERNET BAGI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
Internet merupakan produk teknologi informasi yang mampu berkembang pesat melewati batas negara dan berbagai sendi kehidupan manusia. Dunia pendidikan adalah satu bidang yang memanfaatkan internet secara luas untuk kepentingan peningkatan kualitas suatu institusi pendidikan. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa dan negara. Tanpa pendidikan yang baik, sulit untuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik secara lahir maupun batin. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi dan menentukan kemajuan dan perkembangan pendidikan. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan dunia pendidikan, yaitu kehadiran internet. Internet atau international networking adalah media komunikasi jarak jauh dan informasi dengan menggunakan satelit.
Internet dapat dikatakan sebagai perpustakaan maya (virtual library) yang mengandung jutaan informasi tentang berbagai hal, salah satunya termasuk data dan informasi tentang pendidikan. Internet dapat dijadikan sebagai salah satu sumber belajar alternatif bagi kalangan akademis setelah perpustakaan konvensional di lembaga pendidikan tinggi.
Selain itu manfaat yang ditimbulkan dari kehadiran internet bagi pendidikan antara lain :
1. Mempercepat dan mempermudah alih ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Proses pembelajaran lebih menarik. Melalui internet pembelajaran tidak monoton dan jenuh karena dalam internet ada hal-hal baru yang variatif dan inovatif.
3. Mendorong siswa untuk lebih aktif mencari ilmu pengetahuan dan informasi.
4. Mempermudah penjelasan konsep. Selama ini dalam materi atau bahan pelajaran disampaikan melalui metode ceramah. Dengan adanya internet, guru bisa menyampaikan konsep atau materi secara audiovisual. Pelajaran lebih nyata dan jelas, sehingga mempermudah pemahaman siswa. Hal ini dapat menghindari kebingungan pada diri siswa saat proses pembelajaran berlangsung.
5. Pembelajaran lebih konseptual dan up to date (aktual).
6. Mempermudah dan mempercepat administrasi pendidikan. Pelaksanaan proses pendidikan harus diusahakan lebih praktis dan cepat. Guru tidak terlalu disibukkan urusan administrasi yang berbelit-belit, sehingga konsentrasi lebih tertuju pada proses pembelajaran di kelas. Misalnya, dalam membuat persiapan mengajar, pengolahan nilai, dan menyebarluaskan nilai ulangan atau ujian, bisa menggunakan fasilitas komputer (internet). Dengan demikian, internet dapat memperbaiki dan memperlancar administrasi pendidikan.
7. Sebagai perpustakaan elektronik.
8. Mempercepat dan mempermudah komunikasi edukatif antara guru dengan siswa.
Akhirnya, internet diharapkan dapat membantu mempercepat perkembangan pendidikan. Pendidikan lebih maju dan berkualitas. Pada gilirannya pendidikan dapat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas akan membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Selain dari dampak positif, internet juga berdampak negatif bagi para pelajar. Mencoba untuk melontarkan sebuah wacana dan berbagai fakta tentang sebuah persoalan baru di kota-kota besar yang juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih berupa gejala awal, namun apabila tidak segera diatasi tentu akan berkembang menjadi “penyakit kronis” yang makin sulit untuk diatasi. saat ini telah terjadi pergeseran profil pengguna internet dan juga pergeseran orientasi pemanfaatannya. Pengguna internet terbesar saat ini adalah para pelajar SLTP diikuti oleh pelajar SLTA dan kalangan mahasiswa justru menempati urutan ketiga (kecuali di warnet yang berdekatan dengan kampus). Ada gejala menarik yaitu mulai maraknya pelajar SD bermain internet dan sudah “berani” nongol diwarung internet. Para orang tua tentu saat ini harus “rela” merogoh kocek lebih banyak untuk memenuhi keinginan anak-anaknya untuk bermain internet baik dirumah ataupun di warnet. Harapan orang tua tentulah ingin agar si-anak tidak ketinggalan jaman dan dengan ber-main internet si-anak bisa bertambah pintar. Namun benarkah demikian ?
Makin meratanya pengguna internet disatu sisi memang sangat menggembirakan, namun pergeseran orientasi penggunaan internet sudah sangat memprihatinkan. Dalam pengamatanku, bahwa Para pelajar SLTP, SLTA dan SD sebagian besar (>75%) menggunakan internet “hanya” untuk bermain game dan chatting. Dan rata-rata mereka rela menghabiskan waktu 3-5 jam/ hari dengan mengeluarkan uang Rp.7000 – Rp.30.000/hari untuk bermain internet. Dan anehnya kegiatan tersebut didukung oleh para orang tua. Pergeseran orientasi penggunaan internet tersebut belum ditangkap oleh para orang tua, sehingga setiap anaknya meminta uang berapapun untuk bermain internet selalu diberikan. Padahal yang terjadi adalah tidak ada unsur pendidikan apapun yang bisa didapatkan dari bermain game dan chatting. Memang tidak semua pelajar hanya menggunakan internet untuk bermain game dan chatting. Memang diantara mereka juga menggunakan internet untuk sarana mencari pengetahuan, namun yang melakukan hal itu jumlahnya tidaklah banyak. Game dan chatting bisa membawa effect “kecanduan”. Dan apabila sudah kecanduan tentu effect sampingnya akan membuat anak menjadi malas belajar, malas mengaji dan setiap ada kesempatan selalu berusaha untuk bermain game dan chatting. Dampak negatif bermain game hampir sama dengan dampak permainan Play Station dimana seseorang yang sudah kecanduan akan betah seharian bermain dan bahkan lupa makan, lupa minum dan lupa kalau hari esok masih ada. Sedangkan effect bermain game mungkin bisa digambarkan dengan permainan interkom yang marak sekitar 20 tahun yang lalu. Dimana hampir semua orang “lupa daratan” dan setiap hari kerjanya hanya bermain intercom (jika sudah memegang mic maka orang cenderung akan malas berangkat sekolah, malas berangkat kerja, malas membatu orang tua, malas untuk mengaji malas makan, malas minum dan sebagainya). Begitu juga dengan chatting.. para pelajar yang melakukan kegiatan ini menganggap waktu 5 jam sama dengan 10 menit. Dan mereka cenderung memanfaatkan chatting untuk sekedar ngobrol kesana-kemari dengan teman kencannya di internet dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga mengarah kepada pembicaraan yang porno. Effect permainan game dan chatting ini justru lebih berbahaya dari kekhawatiran kita sekitar 5 tahun lalu tentang maraknya situs-situs porno. Karena berdasarkan pengamatan, ternyata situs porno hanya berefek pada euforia dan dalam waktu singkat mereka sudah akan bosan. Namun effect game dan chatting adalah “Effect Candu” yang bisa membuat penggunanya menjadi ketagihan dan ini yang sangat berbahaya bagi dunia pendidikan kita. Beberapa kejadian di Indonesia menunjukan ada kasus perkosaan oleh teman chatting, penipuan oleh teman chatting.
Sebagai bagian dari Teknologi Informasi, internet memang ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi, teknologi ini bisa bermanfaat apabila digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat, seperti: mencari bahan-bahan pelajaran sekolah, diskusi mata pelajaran, mencari program beasiswa, konsultasi dengan pakar, belajar jarak jauh, dan mencari metode-metode pengajaran berbasis multimedia. Namun sayangnya penggunaan internet justru malah bergeser kepada hal-hal yang negatif dan ini harus menjadi perhatian seluruh komponen masyarakat. Karena bagaimanapun kita tetap membutuhkan internet sebagai sarana informasi dan komunikasi yang bersifat global, namun disisi lain kitapun juga harus siap untuk melakukan antisipasi untuk mengatasi dampak-dampak negatifnya. Dan inilah persoalan bersama kita.
Mumpung semua ini masih berbentuk gejala, alangkah baiknya pemerintah, DPRD, dunia pendidikan, pengamat “IT” dan para pengamat sosial kemasyarakatan duduk bersama untuk membahas dan mencari solusi untuk mengatasinya. “Virus” yang membuat mereka “kecanduan” dan “virus” yang bisa menjebak mereka kedalam sebuah permasalahan. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengemas teknologi ini agar mempunyai muatan pendidikan namun tetap menarik untuk dikunjungi oleh para pelajar sebagai pengguna internet (netter) mayoritas pada saat ini. Namun tetap semua akan dikembalikan lagi kepada para netter, karena dampak positif maupun negatif dari internet bergantung dari niat pemakainya.
Sumber :
www.google.com
http://dunia.pelajar-islam.or.id
www.klik-galamedia.com
DAMPAK DAN MANFAAT INTERNET BAGI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
Internet merupakan produk teknologi informasi yang mampu berkembang pesat melewati batas negara dan berbagai sendi kehidupan manusia. Dunia pendidikan adalah satu bidang yang memanfaatkan internet secara luas untuk kepentingan peningkatan kualitas suatu institusi pendidikan. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa dan negara. Tanpa pendidikan yang baik, sulit untuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik secara lahir maupun batin. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi dan menentukan kemajuan dan perkembangan pendidikan. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan dunia pendidikan, yaitu kehadiran internet. Internet atau international networking adalah media komunikasi jarak jauh dan informasi dengan menggunakan satelit.
Internet dapat dikatakan sebagai perpustakaan maya (virtual library) yang mengandung jutaan informasi tentang berbagai hal, salah satunya termasuk data dan informasi tentang pendidikan. Internet dapat dijadikan sebagai salah satu sumber belajar alternatif bagi kalangan akademis setelah perpustakaan konvensional di lembaga pendidikan tinggi.
Selain itu manfaat yang ditimbulkan dari kehadiran internet bagi pendidikan antara lain :
1. Mempercepat dan mempermudah alih ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Proses pembelajaran lebih menarik. Melalui internet pembelajaran tidak monoton dan jenuh karena dalam internet ada hal-hal baru yang variatif dan inovatif.
3. Mendorong siswa untuk lebih aktif mencari ilmu pengetahuan dan informasi.
4. Mempermudah penjelasan konsep. Selama ini dalam materi atau bahan pelajaran disampaikan melalui metode ceramah. Dengan adanya internet, guru bisa menyampaikan konsep atau materi secara audiovisual. Pelajaran lebih nyata dan jelas, sehingga mempermudah pemahaman siswa. Hal ini dapat menghindari kebingungan pada diri siswa saat proses pembelajaran berlangsung.
5. Pembelajaran lebih konseptual dan up to date (aktual).
6. Mempermudah dan mempercepat administrasi pendidikan. Pelaksanaan proses pendidikan harus diusahakan lebih praktis dan cepat. Guru tidak terlalu disibukkan urusan administrasi yang berbelit-belit, sehingga konsentrasi lebih tertuju pada proses pembelajaran di kelas. Misalnya, dalam membuat persiapan mengajar, pengolahan nilai, dan menyebarluaskan nilai ulangan atau ujian, bisa menggunakan fasilitas komputer (internet). Dengan demikian, internet dapat memperbaiki dan memperlancar administrasi pendidikan.
7. Sebagai perpustakaan elektronik.
8. Mempercepat dan mempermudah komunikasi edukatif antara guru dengan siswa.
Akhirnya, internet diharapkan dapat membantu mempercepat perkembangan pendidikan. Pendidikan lebih maju dan berkualitas. Pada gilirannya pendidikan dapat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas akan membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Selain dari dampak positif, internet juga berdampak negatif bagi para pelajar. Mencoba untuk melontarkan sebuah wacana dan berbagai fakta tentang sebuah persoalan baru di kota-kota besar yang juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih berupa gejala awal, namun apabila tidak segera diatasi tentu akan berkembang menjadi “penyakit kronis” yang makin sulit untuk diatasi. saat ini telah terjadi pergeseran profil pengguna internet dan juga pergeseran orientasi pemanfaatannya. Pengguna internet terbesar saat ini adalah para pelajar SLTP diikuti oleh pelajar SLTA dan kalangan mahasiswa justru menempati urutan ketiga (kecuali di warnet yang berdekatan dengan kampus). Ada gejala menarik yaitu mulai maraknya pelajar SD bermain internet dan sudah “berani” nongol diwarung internet. Para orang tua tentu saat ini harus “rela” merogoh kocek lebih banyak untuk memenuhi keinginan anak-anaknya untuk bermain internet baik dirumah ataupun di warnet. Harapan orang tua tentulah ingin agar si-anak tidak ketinggalan jaman dan dengan ber-main internet si-anak bisa bertambah pintar. Namun benarkah demikian ?
Makin meratanya pengguna internet disatu sisi memang sangat menggembirakan, namun pergeseran orientasi penggunaan internet sudah sangat memprihatinkan. Dalam pengamatanku, bahwa Para pelajar SLTP, SLTA dan SD sebagian besar (>75%) menggunakan internet “hanya” untuk bermain game dan chatting. Dan rata-rata mereka rela menghabiskan waktu 3-5 jam/ hari dengan mengeluarkan uang Rp.7000 – Rp.30.000/hari untuk bermain internet. Dan anehnya kegiatan tersebut didukung oleh para orang tua. Pergeseran orientasi penggunaan internet tersebut belum ditangkap oleh para orang tua, sehingga setiap anaknya meminta uang berapapun untuk bermain internet selalu diberikan. Padahal yang terjadi adalah tidak ada unsur pendidikan apapun yang bisa didapatkan dari bermain game dan chatting. Memang tidak semua pelajar hanya menggunakan internet untuk bermain game dan chatting. Memang diantara mereka juga menggunakan internet untuk sarana mencari pengetahuan, namun yang melakukan hal itu jumlahnya tidaklah banyak. Game dan chatting bisa membawa effect “kecanduan”. Dan apabila sudah kecanduan tentu effect sampingnya akan membuat anak menjadi malas belajar, malas mengaji dan setiap ada kesempatan selalu berusaha untuk bermain game dan chatting. Dampak negatif bermain game hampir sama dengan dampak permainan Play Station dimana seseorang yang sudah kecanduan akan betah seharian bermain dan bahkan lupa makan, lupa minum dan lupa kalau hari esok masih ada. Sedangkan effect bermain game mungkin bisa digambarkan dengan permainan interkom yang marak sekitar 20 tahun yang lalu. Dimana hampir semua orang “lupa daratan” dan setiap hari kerjanya hanya bermain intercom (jika sudah memegang mic maka orang cenderung akan malas berangkat sekolah, malas berangkat kerja, malas membatu orang tua, malas untuk mengaji malas makan, malas minum dan sebagainya). Begitu juga dengan chatting.. para pelajar yang melakukan kegiatan ini menganggap waktu 5 jam sama dengan 10 menit. Dan mereka cenderung memanfaatkan chatting untuk sekedar ngobrol kesana-kemari dengan teman kencannya di internet dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga mengarah kepada pembicaraan yang porno. Effect permainan game dan chatting ini justru lebih berbahaya dari kekhawatiran kita sekitar 5 tahun lalu tentang maraknya situs-situs porno. Karena berdasarkan pengamatan, ternyata situs porno hanya berefek pada euforia dan dalam waktu singkat mereka sudah akan bosan. Namun effect game dan chatting adalah “Effect Candu” yang bisa membuat penggunanya menjadi ketagihan dan ini yang sangat berbahaya bagi dunia pendidikan kita. Beberapa kejadian di Indonesia menunjukan ada kasus perkosaan oleh teman chatting, penipuan oleh teman chatting.
Sebagai bagian dari Teknologi Informasi, internet memang ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi, teknologi ini bisa bermanfaat apabila digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat, seperti: mencari bahan-bahan pelajaran sekolah, diskusi mata pelajaran, mencari program beasiswa, konsultasi dengan pakar, belajar jarak jauh, dan mencari metode-metode pengajaran berbasis multimedia. Namun sayangnya penggunaan internet justru malah bergeser kepada hal-hal yang negatif dan ini harus menjadi perhatian seluruh komponen masyarakat. Karena bagaimanapun kita tetap membutuhkan internet sebagai sarana informasi dan komunikasi yang bersifat global, namun disisi lain kitapun juga harus siap untuk melakukan antisipasi untuk mengatasi dampak-dampak negatifnya. Dan inilah persoalan bersama kita.
Mumpung semua ini masih berbentuk gejala, alangkah baiknya pemerintah, DPRD, dunia pendidikan, pengamat “IT” dan para pengamat sosial kemasyarakatan duduk bersama untuk membahas dan mencari solusi untuk mengatasinya. “Virus” yang membuat mereka “kecanduan” dan “virus” yang bisa menjebak mereka kedalam sebuah permasalahan. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengemas teknologi ini agar mempunyai muatan pendidikan namun tetap menarik untuk dikunjungi oleh para pelajar sebagai pengguna internet (netter) mayoritas pada saat ini. Namun tetap semua akan dikembalikan lagi kepada para netter, karena dampak positif maupun negatif dari internet bergantung dari niat pemakainya.
Sumber :
www.google.com
http://dunia.pelajar-islam.or.id
www.klik-galamedia.com
Pemerintah bangun sekolah untuk anak TKI di Malaysia
Rabu, 17 September 2008 | 20:47 WIB
JAKARTA, RABU - Pemerintah segera mendirikan sekolah bagi anak Tenaga Kerja Indonesia atau TKI di Malaysia, khususnya di Sabah. Sekolah tersebut direncanakan menjadi induk bagi model pelayanan pendidikan nonformal yang akan diadakan pula di sana.
Hal tersebut terungkap dalam jumpa pers yang dihadiri Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Suyanto, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da'i Bachtiar, dan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri, Teguh Wardoyo, Rabu (18/9). Pada hari yang sama mereka mengadakan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo terkait dengan masalah pendidikan anak TKI tersebut.
Selama ini, mereka mendapatkan pendidikan dari lembaga semacam bimbingan tes yang berbasis di Malaysia yakni Yayasan Humana. Sebelumnya diwartakan, para guru honorer yang baru saja pulang mengajar dari Sabah setelah kontrak mereka dengan Depdiknas berakhir, sempat melaporkan bahwa pengajaran oleh Yayasan Humana sekitar 80 persen berkiblat kepada kurikulum di Malaysia. Mereka juga dididik dalam kondisi yang menurut para guru Indonesia tersebut mengenaskan serta tidak mendapatkan ijasah sehingga sulit meneruskan pendidikan.
Da'i Bachtiar mengatakan, pemerintah segera membangun sekolah Indonesia di Kinabalu. Sementara akan disewa beberapa rumah toko untuk beberapa kelas. Ke depan, pemerintah akan membeli tanah guna membangun sekolah tersebut.
Suyanto menambahkan, telah dipersipakan anggaran sekitar Rp 7 miliar untuk membeli tanah. Pembangunan sekolah tersebut akan bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI. Sekolah tersebut untuk menangani anak-anak sekitar Kinabalu saja yang berdasarkan pendataan sekitar 500 anak. Dari jumlah tersebut, terdapat 170-an anak masih dalam usia sekolah. Selebihnya, anak tidak dapat masuk sekolah formal karena faktor usia.
Untuk anak-anak tersebut dan anak di kawasan perkebunan di pedalaman, pemerintah merencanakan untuk memberikan pelayanan pendidikan nonformal yang nantinya dapat menginduk ke sekoolah formal di Kinabalu itu. Jumlah anak TKI di Sabah yang membutuhkan layanan pendidikan layak diperkirakan berkisar 25.000-30.000 anak.
Pemerintah juga akan memperbesar kapasitas sekolah-sekolah di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan Malaysia. "Di Nunukan dan Sebatik akan diperluas kapasitasnya. Kami berupaya menyelesaikan persoalan ini sekomprehensif mungkin. Harapannya, anak-anak dapat menikmati pendidikan yang merupakan haknya terlepas mereka sebagai warga legal atau ilegal," ujar Suyanto.
Departemen Pendidikan Nasional atau Depdiknas juga kan mengirimkan 10.000 ribu buku bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Sabah, Malaysia. Hal itu agar anak tetap dapat mengikuti perkembangan kurikulum di Indonesia. Dengan adanya buku berbasis kurikulum Indonesia tersebut harapannya anak-anak tersebut tidak asing dengan yang terjadi di tanah air.
JAKARTA, RABU - Pemerintah segera mendirikan sekolah bagi anak Tenaga Kerja Indonesia atau TKI di Malaysia, khususnya di Sabah. Sekolah tersebut direncanakan menjadi induk bagi model pelayanan pendidikan nonformal yang akan diadakan pula di sana.
Hal tersebut terungkap dalam jumpa pers yang dihadiri Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Suyanto, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da'i Bachtiar, dan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri, Teguh Wardoyo, Rabu (18/9). Pada hari yang sama mereka mengadakan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo terkait dengan masalah pendidikan anak TKI tersebut.
Selama ini, mereka mendapatkan pendidikan dari lembaga semacam bimbingan tes yang berbasis di Malaysia yakni Yayasan Humana. Sebelumnya diwartakan, para guru honorer yang baru saja pulang mengajar dari Sabah setelah kontrak mereka dengan Depdiknas berakhir, sempat melaporkan bahwa pengajaran oleh Yayasan Humana sekitar 80 persen berkiblat kepada kurikulum di Malaysia. Mereka juga dididik dalam kondisi yang menurut para guru Indonesia tersebut mengenaskan serta tidak mendapatkan ijasah sehingga sulit meneruskan pendidikan.
Da'i Bachtiar mengatakan, pemerintah segera membangun sekolah Indonesia di Kinabalu. Sementara akan disewa beberapa rumah toko untuk beberapa kelas. Ke depan, pemerintah akan membeli tanah guna membangun sekolah tersebut.
Suyanto menambahkan, telah dipersipakan anggaran sekitar Rp 7 miliar untuk membeli tanah. Pembangunan sekolah tersebut akan bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI. Sekolah tersebut untuk menangani anak-anak sekitar Kinabalu saja yang berdasarkan pendataan sekitar 500 anak. Dari jumlah tersebut, terdapat 170-an anak masih dalam usia sekolah. Selebihnya, anak tidak dapat masuk sekolah formal karena faktor usia.
Untuk anak-anak tersebut dan anak di kawasan perkebunan di pedalaman, pemerintah merencanakan untuk memberikan pelayanan pendidikan nonformal yang nantinya dapat menginduk ke sekoolah formal di Kinabalu itu. Jumlah anak TKI di Sabah yang membutuhkan layanan pendidikan layak diperkirakan berkisar 25.000-30.000 anak.
Pemerintah juga akan memperbesar kapasitas sekolah-sekolah di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan Malaysia. "Di Nunukan dan Sebatik akan diperluas kapasitasnya. Kami berupaya menyelesaikan persoalan ini sekomprehensif mungkin. Harapannya, anak-anak dapat menikmati pendidikan yang merupakan haknya terlepas mereka sebagai warga legal atau ilegal," ujar Suyanto.
Departemen Pendidikan Nasional atau Depdiknas juga kan mengirimkan 10.000 ribu buku bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Sabah, Malaysia. Hal itu agar anak tetap dapat mengikuti perkembangan kurikulum di Indonesia. Dengan adanya buku berbasis kurikulum Indonesia tersebut harapannya anak-anak tersebut tidak asing dengan yang terjadi di tanah air.
Alat dan saran pendidikan Islam
29 f 2008 pada 3:11 pm (Pendidikan Islam)
Tags: Pendidikan ImronFauzi wordpres.com
Alat pendidikan adalah suatu tindakan / perbuatan / situasi / benda yang sengaja diadakan untuk mempermudah pencapaian pendidikan. Alat pendidikan dapat juga di sebut sebagai sarana / prasarana pendidikan. Sarana pendidikan terbagi kepada dua bagian yaitu : Pertama, Sarana fisik pendidikan; Kedua, Sarana non fisik pendidikan.
1. Sarana Fisik Pendidikan.
Lembaga Pendidikan
a. baga atau badan pendidikan adalah organisasi atau kelompok manusia, yang memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Lembaga pendidikan ini dapat berbentuk formal, informal, dan non formal.
Secara formal pendidikan di berikan di sekolah yang terkait aturan – aturan tertentu, sedangkan non formal di berikan berupa kursus-kursus yang aturannya tidak terlalu ketat, dan yang secara informal pendidikan di berikan di lingkungan keluarga.
b) Media Pendidikan.
Media disini berarti alat-alat / benda-benda yang dapat membantu kelancaran proses pendidikan, Seperti: OHP, Komputer, dan sebagainya.
2. Sarana Non Fisik Pendidikan
Yaitu alat pendidikan yang tidak berupa bangunan tapi berupa materi atau pokok-pokok pikiran yang membantu kelancaran proses pendidikan. Sarana pendidikan non fisik ini terdiri dari :
a) Kurikulum
Kurikulum merupakan bahan-bahan pelajaran yang harus di sajikan dalam proses pendidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan. Dalam IPI kurikulum merupakan komponen yang amat penting karena juga sebagai alat pencapaian tujuan pendidikan itu. Selain itu kurikulum yang diberikan di upayakan agar anak didik dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat.
b) Metode
Metode dapat di artikan sebagai cara mengajar untuk pencapaian tujuan. Penggunaan metode dapat memperlancar proses pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Metode-metode tersebut, seperti: Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Hafalan, Cerita, Diskusi, dan lain-lain.
c) Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu cara memberikan penialaian terhadap hasil belajar murid. Evaluasi dapat berbentuk tes dan non tes.
Evaluasi tes dapat berupa: essay, tes objektif, dan sebagainya. Sedangkan evaluasi non tes dapat berupa: penilaian terhadap kehadiran, pengendalian diri, nalar, dan pengalaman.
d) Manajemen
Pengelolaan yang baik dan terarah sangat diperlukan dalam mengelola lembaga pendidikan agar tujuan yang di harapkan dapat tercapai. Pengembangan sistem pendidikan islam membutuhkan manajemen yang baik. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, penempatan pegawai, dan pengawasan yang baik akan memperkuat pendidikan Islam sehingga out put yang di hasilkan akan berkualitas dan dapat menjawab tantangan zaman.
e) Mutu Pelajaran
Peningkatan mutu pelajaran tidak terlepas dari peningkatan kualitas tenaga pengajar. Kualitas tenaga pengajar ini dapat di usahakan melalui bimbingan, penataran, pelatihan, dan lain-lain.
Tags: Pendidikan ImronFauzi wordpres.com
Alat pendidikan adalah suatu tindakan / perbuatan / situasi / benda yang sengaja diadakan untuk mempermudah pencapaian pendidikan. Alat pendidikan dapat juga di sebut sebagai sarana / prasarana pendidikan. Sarana pendidikan terbagi kepada dua bagian yaitu : Pertama, Sarana fisik pendidikan; Kedua, Sarana non fisik pendidikan.
1. Sarana Fisik Pendidikan.
Lembaga Pendidikan
a. baga atau badan pendidikan adalah organisasi atau kelompok manusia, yang memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Lembaga pendidikan ini dapat berbentuk formal, informal, dan non formal.
Secara formal pendidikan di berikan di sekolah yang terkait aturan – aturan tertentu, sedangkan non formal di berikan berupa kursus-kursus yang aturannya tidak terlalu ketat, dan yang secara informal pendidikan di berikan di lingkungan keluarga.
b) Media Pendidikan.
Media disini berarti alat-alat / benda-benda yang dapat membantu kelancaran proses pendidikan, Seperti: OHP, Komputer, dan sebagainya.
2. Sarana Non Fisik Pendidikan
Yaitu alat pendidikan yang tidak berupa bangunan tapi berupa materi atau pokok-pokok pikiran yang membantu kelancaran proses pendidikan. Sarana pendidikan non fisik ini terdiri dari :
a) Kurikulum
Kurikulum merupakan bahan-bahan pelajaran yang harus di sajikan dalam proses pendidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan. Dalam IPI kurikulum merupakan komponen yang amat penting karena juga sebagai alat pencapaian tujuan pendidikan itu. Selain itu kurikulum yang diberikan di upayakan agar anak didik dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat.
b) Metode
Metode dapat di artikan sebagai cara mengajar untuk pencapaian tujuan. Penggunaan metode dapat memperlancar proses pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Metode-metode tersebut, seperti: Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Hafalan, Cerita, Diskusi, dan lain-lain.
c) Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu cara memberikan penialaian terhadap hasil belajar murid. Evaluasi dapat berbentuk tes dan non tes.
Evaluasi tes dapat berupa: essay, tes objektif, dan sebagainya. Sedangkan evaluasi non tes dapat berupa: penilaian terhadap kehadiran, pengendalian diri, nalar, dan pengalaman.
d) Manajemen
Pengelolaan yang baik dan terarah sangat diperlukan dalam mengelola lembaga pendidikan agar tujuan yang di harapkan dapat tercapai. Pengembangan sistem pendidikan islam membutuhkan manajemen yang baik. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, penempatan pegawai, dan pengawasan yang baik akan memperkuat pendidikan Islam sehingga out put yang di hasilkan akan berkualitas dan dapat menjawab tantangan zaman.
e) Mutu Pelajaran
Peningkatan mutu pelajaran tidak terlepas dari peningkatan kualitas tenaga pengajar. Kualitas tenaga pengajar ini dapat di usahakan melalui bimbingan, penataran, pelatihan, dan lain-lain.
Tujuan perpustakaan berbasis TIK
Oleh LIlik Susilowati
Tujuan penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah menunjang program belajar bagi murid dan engajar bagi guru agar tujuan umum dan khusus endidikan tercapai secara optimal.
Membangun serta memfasilitasi minat baca siswa, sehingga dapat membantu proses
belajar mengajar serta memfasilitasi keinginan siswa untuk mengetahui hal-hal lain ang tidak diberi oleh pengajar atau guru.
Peranan perpustakaan sekolah berperan sebagai salah satu sarana pendidikan yang ersifat teknis edukatif dan bersama -sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya kut menentukan berhasilnya proses pendidikan.
Fungsi perpustakaan sekolah adalah memberikan informasi untuk menunjang rogram belajar dan mengajar. Fungsi dari pelayanan informasi akan menghasilkan iga macam manfaat yaitu : Sebagai sumber belajar, sumber informasi, mengasah nspirasi dan rekreasi.
Dikatakan sebagai sumber belajar karena dengan menggunakan perpustakaan ecara tepat guna siswa dapat memperdalam pemahaman dan penghayatan engetahuan yang diperoleh dari guru. Dikatakan sebagai sumber informasi karena oleksi perpustakaan dapat dipergunakan untuk memperluas cakrawala pengetahuan an ketrampilan murid selain yang telah diberikan oleh guru. Begitu juga penggunaan leh guru akan memperluas cakrawala dan memutakhirkan pengetahuan guru dalam idang studi yang diajarkan.
Manfaat sebagai sumber rekreasi tampak dalam fungsinya memberikan koleksi ingan sehingga memberikan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan erkembangan perpustakaan, ketrampilan, serta nilai dan sikap hidup, baik guru maupun siswa.
Tujuan penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah menunjang program belajar bagi murid dan engajar bagi guru agar tujuan umum dan khusus endidikan tercapai secara optimal.
Membangun serta memfasilitasi minat baca siswa, sehingga dapat membantu proses
belajar mengajar serta memfasilitasi keinginan siswa untuk mengetahui hal-hal lain ang tidak diberi oleh pengajar atau guru.
Peranan perpustakaan sekolah berperan sebagai salah satu sarana pendidikan yang ersifat teknis edukatif dan bersama -sama dengan unsur-unsur pendidikan lainnya kut menentukan berhasilnya proses pendidikan.
Fungsi perpustakaan sekolah adalah memberikan informasi untuk menunjang rogram belajar dan mengajar. Fungsi dari pelayanan informasi akan menghasilkan iga macam manfaat yaitu : Sebagai sumber belajar, sumber informasi, mengasah nspirasi dan rekreasi.
Dikatakan sebagai sumber belajar karena dengan menggunakan perpustakaan ecara tepat guna siswa dapat memperdalam pemahaman dan penghayatan engetahuan yang diperoleh dari guru. Dikatakan sebagai sumber informasi karena oleksi perpustakaan dapat dipergunakan untuk memperluas cakrawala pengetahuan an ketrampilan murid selain yang telah diberikan oleh guru. Begitu juga penggunaan leh guru akan memperluas cakrawala dan memutakhirkan pengetahuan guru dalam idang studi yang diajarkan.
Manfaat sebagai sumber rekreasi tampak dalam fungsinya memberikan koleksi ingan sehingga memberikan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan erkembangan perpustakaan, ketrampilan, serta nilai dan sikap hidup, baik guru maupun siswa.
Perbaikan sekolah rusak selesai
SEMARANG (Joglosemar): Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menargetkan untuk menyelesaikan perbaikan terhadap sekolah rusak pada tahun 2008. Perbaikan ini, dialokasikan dari dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Daftar Pelaksanaan Anggaran (DPA).
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng mendapat DIPA APBN 2008 sebesar Rp 2.675.777.194.000 dan Rp 250 miliar dari APBD Jateng 2008. Dana ini, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng Kunto Nugroho Hari Putranto, akan digunakan untuk pemberantasan buta aksara, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar, menyelesaikan rehabilitasi sarana prasarana pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan secara umum dan khusus untuk meningkatkan kualitas manajemen atau penyelenggaraan pendidikan sekolah kejuruan di Jateng.
”Kalau sekolah kejuruan bisa di-push (tekan) dengan proporsi 70:30, bertahap melalui 60:40, diharapkan output (lulusan) SMK akan bisa mengisi lowongan kerja, sehingga bisa mengurangi masalah pengangguran atau kemiskinan,” ungkap Kunto, Sabtu (5/1).
Selain peningkatan kualitas manajemen penyelenggaraan pendidikan sekolah kejuruan, prioritas berikutnya di tahun 2008 adalah menyelesaikan perbaikan sarana dan prasarana sekolah.
Kunto menyatakan, perbaikan terhadap sekitar 24.000 sekolah, baik yang rusak ringan, sedang dan berat ditargetkan bisa diselesaikan di tahun 2008. Upaya perbaikan ini, selain dialokasikan dari APBN, juga dari APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota. ”Recovery sharing budgeting, 50 persen dari APBN, 30 persen dari APBD provinsi dan 20, persen dari APBD kabupaten/kota,” jelasnya.
Buta Aksara
Dana untuk perbaikan ini, dari APBD provinsi sekitar Rp 100 miliar. Nantinya satu sekolah rusak mendapat dana sebesar Rp 40 juta.
Target selanjutnya adalah pemberantasan buta aksara. Kunto menyebutkan, 2,9 juta lebih masyarakat Jateng telah bebas dari buta aksara pada tahun 2005, atau peringkat kedua bebas aksara secara nasional. ”Pemberantasan buta aksara 100 persen jelas tidak mungkin, tetapi kita sudah mengarah ke sana,” jelasnya.
Ia menyatakan, penyandang buta aksara usia produktif sebanyak 480 ribu lebih di tahun 2007 telah tuntas. Sementara penyandang buta aksara untuk usia lanjut (44 tahun ke atas) masih berjumlah sekitar 1,6 juta orang. Namun, angka ini sudah diintervensi dan ditargetkan berkurang setengahnya pada tahun 2008.
”Secara keseluruhan, dari 2,9 juta masyarakat, sekarang tinggal 800-an. Kita sudah melampai target yang diharapkan oleh pemerintah,” tambahnya.
Pemerintah melalui visi Millenium Development Goals (MDGs) 2015 berkomitmen untuk melakukan pemberantasan terhadap buta aksara di Indonesia. (ena)
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng mendapat DIPA APBN 2008 sebesar Rp 2.675.777.194.000 dan Rp 250 miliar dari APBD Jateng 2008. Dana ini, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng Kunto Nugroho Hari Putranto, akan digunakan untuk pemberantasan buta aksara, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar, menyelesaikan rehabilitasi sarana prasarana pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan secara umum dan khusus untuk meningkatkan kualitas manajemen atau penyelenggaraan pendidikan sekolah kejuruan di Jateng.
”Kalau sekolah kejuruan bisa di-push (tekan) dengan proporsi 70:30, bertahap melalui 60:40, diharapkan output (lulusan) SMK akan bisa mengisi lowongan kerja, sehingga bisa mengurangi masalah pengangguran atau kemiskinan,” ungkap Kunto, Sabtu (5/1).
Selain peningkatan kualitas manajemen penyelenggaraan pendidikan sekolah kejuruan, prioritas berikutnya di tahun 2008 adalah menyelesaikan perbaikan sarana dan prasarana sekolah.
Kunto menyatakan, perbaikan terhadap sekitar 24.000 sekolah, baik yang rusak ringan, sedang dan berat ditargetkan bisa diselesaikan di tahun 2008. Upaya perbaikan ini, selain dialokasikan dari APBN, juga dari APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota. ”Recovery sharing budgeting, 50 persen dari APBN, 30 persen dari APBD provinsi dan 20, persen dari APBD kabupaten/kota,” jelasnya.
Buta Aksara
Dana untuk perbaikan ini, dari APBD provinsi sekitar Rp 100 miliar. Nantinya satu sekolah rusak mendapat dana sebesar Rp 40 juta.
Target selanjutnya adalah pemberantasan buta aksara. Kunto menyebutkan, 2,9 juta lebih masyarakat Jateng telah bebas dari buta aksara pada tahun 2005, atau peringkat kedua bebas aksara secara nasional. ”Pemberantasan buta aksara 100 persen jelas tidak mungkin, tetapi kita sudah mengarah ke sana,” jelasnya.
Ia menyatakan, penyandang buta aksara usia produktif sebanyak 480 ribu lebih di tahun 2007 telah tuntas. Sementara penyandang buta aksara untuk usia lanjut (44 tahun ke atas) masih berjumlah sekitar 1,6 juta orang. Namun, angka ini sudah diintervensi dan ditargetkan berkurang setengahnya pada tahun 2008.
”Secara keseluruhan, dari 2,9 juta masyarakat, sekarang tinggal 800-an. Kita sudah melampai target yang diharapkan oleh pemerintah,” tambahnya.
Pemerintah melalui visi Millenium Development Goals (MDGs) 2015 berkomitmen untuk melakukan pemberantasan terhadap buta aksara di Indonesia. (ena)
60 gedung sekolah rusak di Samarinda
INILAH.COM, Samarinda - Sedikitnya 60 unit gedung Sekolah Dasar (SD) dari 199 SD yang ada di Samarinda, Kaltim rusak akibat bangunan gedung SD umumnya terbuat dari kayu dan 10 unit di antaranya karena banjir.
"Dari 199 gedung SD di Samarinda, 30 persen di antaranya rusak akibat gedungnya terbuat dari kayu dan sebahagian karena banjir. Namun, seluruh bangunan sekolah di Samarinda masih layak sehingga perbaikannya hanya bersifat renovasi dan peningkatan gedung," kata Kepala Sub Dinas Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda, L. Hamuddin kepada wartawan di Samarinda Selasa (29/1).
Ia mengakui, dari Rp 178, 7 miliar anggaran pendidikan tahun 2008 yang dikucurkan Pemerintah Kota Samarinda, Rp 50 miliar di antaranya dialokasikan untuk perbaikan gedung SD dan SMP.
"Alokasi anggaran untuk perbaikan gedung sekolah sebesar Rp 50 miliar yang dibagi menjadi dua yaitu, untuk rehabilitasi sebesar Rp 37 miliar dan pengadaan sarana belajar-mengajar Rp 13 miliar. Kerusakannya tidak terlalu parah dan umumnya yang rusak hanya bahagian atap,"kata L. Hamuddin.
Dijelaskan Kasubdin Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda itu, alokasi anggaran pendidikan tahun 2008 lebih diprioritaskan pada tingkat SD dan SMP, sementara alokasi untuk tingkat SMU diprioritaskan pada pengadaan laboratorium.
Dari data Dinas Pendidikan Kota Samarinda, terdapat 45 buah gedung SMP, dan 15 unit gedung SMU. 40 persen SMU di Samarinda, kata L Hamuddin, belum memiliki laboratorium.
Menurutnya, gedung SMP dan SMU di Samarinda kondisinya relatif baik sehingga anggaran pendidikan lebih diprioritaskan pada pengadaan sarana penunjang.
Pemkot Samarinda ungkap Kasubdin Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda tersebut mengalokasikan dana Rp 31 miliar untuk intensif 7435 guru swasta.
"Tahun 2007, setiap guru swasta hanya memperoleh insetif Rp 250 per bulan dan ditingkatkan Rp 350 ribu per bulan pada tahun 2008. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya guru swasta di Samarinda,"ungkapnya.
Sementara, Pemkot Samarinda juga telah menerapkan penghapusan biaya partisipasi bagi murid dengan mengalokasi anggaran sebesar Rp 33 miliar guna penyediaan Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM).
"Besarnya anggaran itu merupakan komitemen Pemkot Samarinda untuk merealisasikan 20 persen anggaran pendidikan dari APBD kota Samarinda," kata L Hamuddin. [Ant/R1]
"Dari 199 gedung SD di Samarinda, 30 persen di antaranya rusak akibat gedungnya terbuat dari kayu dan sebahagian karena banjir. Namun, seluruh bangunan sekolah di Samarinda masih layak sehingga perbaikannya hanya bersifat renovasi dan peningkatan gedung," kata Kepala Sub Dinas Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda, L. Hamuddin kepada wartawan di Samarinda Selasa (29/1).
Ia mengakui, dari Rp 178, 7 miliar anggaran pendidikan tahun 2008 yang dikucurkan Pemerintah Kota Samarinda, Rp 50 miliar di antaranya dialokasikan untuk perbaikan gedung SD dan SMP.
"Alokasi anggaran untuk perbaikan gedung sekolah sebesar Rp 50 miliar yang dibagi menjadi dua yaitu, untuk rehabilitasi sebesar Rp 37 miliar dan pengadaan sarana belajar-mengajar Rp 13 miliar. Kerusakannya tidak terlalu parah dan umumnya yang rusak hanya bahagian atap,"kata L. Hamuddin.
Dijelaskan Kasubdin Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda itu, alokasi anggaran pendidikan tahun 2008 lebih diprioritaskan pada tingkat SD dan SMP, sementara alokasi untuk tingkat SMU diprioritaskan pada pengadaan laboratorium.
Dari data Dinas Pendidikan Kota Samarinda, terdapat 45 buah gedung SMP, dan 15 unit gedung SMU. 40 persen SMU di Samarinda, kata L Hamuddin, belum memiliki laboratorium.
Menurutnya, gedung SMP dan SMU di Samarinda kondisinya relatif baik sehingga anggaran pendidikan lebih diprioritaskan pada pengadaan sarana penunjang.
Pemkot Samarinda ungkap Kasubdin Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Samarinda tersebut mengalokasikan dana Rp 31 miliar untuk intensif 7435 guru swasta.
"Tahun 2007, setiap guru swasta hanya memperoleh insetif Rp 250 per bulan dan ditingkatkan Rp 350 ribu per bulan pada tahun 2008. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya guru swasta di Samarinda,"ungkapnya.
Sementara, Pemkot Samarinda juga telah menerapkan penghapusan biaya partisipasi bagi murid dengan mengalokasi anggaran sebesar Rp 33 miliar guna penyediaan Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM).
"Besarnya anggaran itu merupakan komitemen Pemkot Samarinda untuk merealisasikan 20 persen anggaran pendidikan dari APBD kota Samarinda," kata L Hamuddin. [Ant/R1]
Indosat bantu sekolah Rp 1,2 M
Penyerahan Donasi Duta Belia 17-8-45
JAKARTA - Indosat menyerahkan hasil Donasi 17-8-45 untuk membantu sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah-sekolah sebesar Rp1,2 Milyar. Selain itu Indosat juga memberikan beasiswa kepada generasi muda berprestasi yang tergabung dalam Duta Belia 2008.
Program Donasi dan Beasiswa Duta Belia ini merupakan bagian dari kegiatan kepedulian perusahaan kepada masyarakat (corporate social responsibility/CSR) yang selama ini secara konsisten dilaksanakan perusahaan dengan fokus pendidikan dan kesehatan di bawah payung Indosat Cinta Indonesia.
Program Donasi 17-8-45 sendiri merupakan program kepedulian dengan penyisihan pendapatan dari setiap penggunaan layanan Indosat oleh pelanggan sejak awal Agustus lalu yang mencapai Rp 927.394.199,- yang kemudian ditambah dengan dana CSR Indosat sehingga mencapai total Rp 1,2 Milyar. Dana ini nantinya akan disumbangkan untuk membantu sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah-sekolah di seluruh pelosok tanah air di mana Indosat beroperasi dan melayani masyarakat.
Selain penyerahan hasil program Donasi 17-8-45, dalam kesempatan yang sama Indosat juga memberikan beasiswa kepada para Duta Belia 2008. Indosat secara konsisten turut berpartisipasi dalam kegiatan Duta Belia yang dipelopori oleh Departemen Luar Negeri, yang bekerja sama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
"Indosat menyambut hangat dan turut bangga atas prestasi para Duta Belia yang telah mengharumkan nama bangsa. Kami berharap beasiswa ini dapat memacu untuk lebih berprestasi lagi serta memberikan teladan positif kepada generasi muda lainnya," papar Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam melalui siaran pers, Kamis (21/8/2008).
Duta Belia adalah kelompok anak-anak muda berprestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional, seperti anggota Paskibraka, tim Olimpiade Science, pelajar teladan, pelajar pelatih angklung dan Duta Pesantren. Pemberian beasiswa ini telah dilakukan Indosat secara konsisten, dimana untuk tahun 2008 total beasiswa yang diberikan mencapai Rp255 juta.
Selain beasiswa, Indosat juga membantu memfasilitasi pelaksanaan pelatihan para Duta Belia di Indosat Training & Conference, di Jatiluhur, Jawa Barat yang akan dilaksanakan mulai tanggal 21 ? 23 Agustus 2008. Indosat pun turut membantu pengembangan situs Duta Belia yang menjadi wadah silaturahmi dan sarana pertukaran informasi antar alumni Duta Belia. (//srn)
JAKARTA - Indosat menyerahkan hasil Donasi 17-8-45 untuk membantu sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah-sekolah sebesar Rp1,2 Milyar. Selain itu Indosat juga memberikan beasiswa kepada generasi muda berprestasi yang tergabung dalam Duta Belia 2008.
Program Donasi dan Beasiswa Duta Belia ini merupakan bagian dari kegiatan kepedulian perusahaan kepada masyarakat (corporate social responsibility/CSR) yang selama ini secara konsisten dilaksanakan perusahaan dengan fokus pendidikan dan kesehatan di bawah payung Indosat Cinta Indonesia.
Program Donasi 17-8-45 sendiri merupakan program kepedulian dengan penyisihan pendapatan dari setiap penggunaan layanan Indosat oleh pelanggan sejak awal Agustus lalu yang mencapai Rp 927.394.199,- yang kemudian ditambah dengan dana CSR Indosat sehingga mencapai total Rp 1,2 Milyar. Dana ini nantinya akan disumbangkan untuk membantu sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah-sekolah di seluruh pelosok tanah air di mana Indosat beroperasi dan melayani masyarakat.
Selain penyerahan hasil program Donasi 17-8-45, dalam kesempatan yang sama Indosat juga memberikan beasiswa kepada para Duta Belia 2008. Indosat secara konsisten turut berpartisipasi dalam kegiatan Duta Belia yang dipelopori oleh Departemen Luar Negeri, yang bekerja sama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
"Indosat menyambut hangat dan turut bangga atas prestasi para Duta Belia yang telah mengharumkan nama bangsa. Kami berharap beasiswa ini dapat memacu untuk lebih berprestasi lagi serta memberikan teladan positif kepada generasi muda lainnya," papar Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam melalui siaran pers, Kamis (21/8/2008).
Duta Belia adalah kelompok anak-anak muda berprestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional, seperti anggota Paskibraka, tim Olimpiade Science, pelajar teladan, pelajar pelatih angklung dan Duta Pesantren. Pemberian beasiswa ini telah dilakukan Indosat secara konsisten, dimana untuk tahun 2008 total beasiswa yang diberikan mencapai Rp255 juta.
Selain beasiswa, Indosat juga membantu memfasilitasi pelaksanaan pelatihan para Duta Belia di Indosat Training & Conference, di Jatiluhur, Jawa Barat yang akan dilaksanakan mulai tanggal 21 ? 23 Agustus 2008. Indosat pun turut membantu pengembangan situs Duta Belia yang menjadi wadah silaturahmi dan sarana pertukaran informasi antar alumni Duta Belia. (//srn)
DKI akan rehabilitasi 65 % gedung sekolah
Selasa, 3 Februari 2009 | 17:02 WIB
JAKARTA, SELASA — Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, Bidang Sarana dan Prasarana Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan merehabilitasi 321 gedung sekolah SDN, SMPN, SMAN, dan SMKN. Jumlah ini jauh dari yang diusulkan pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta kepada DPRD.
Dalam jumpa pers di balai kota, Selasa (3/2), Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pemprov DKI Jakarta Didi Sugandi mengatakan, ke-321 gedung sekolah ini terbagi dalam 3 tipe rehabilitasi. Yakni rehab total sebanyak 19 sekolah, rehab sedang 10 sekolah, dan rehab berat 229 sekolah.
“Data rekapitulasi gedung sekolah yang diusulkan sebesar 497 gedung, 321 gedung dikerjakan tahun ini dan sisanya 179 gedung sekolah belum masuk target rehab tahun ini,” katanya. Pada rehab total realisasi anggaran mencapai sekitar Rp 233 miliar dan rehab berat sebanyak Rp 348 miliar, sementara Didi tidak merinci besaran untuk rehabilitasi sedang.
Adapun kriteria sebuah sekolah masuk rehab total adalah umur bangunan lebih dari 30 tahun, tingkat kerusakan lebih dari 65 persen, tidak memilik ruang penunjang serta konstruksi belum standar, masih menggunakan bahan kayu yang sudah rapuh, dan konstruksi bangunan tidak dapat dipertahankan.
Untuk jenis rehabilitasi berat, kriterianya mencakup tingkat kerusakan di atas 45-65 persen dan tidak rawan banjir setiap musim hujan. Adapun untuk rehab sedang, tingkat kerusakan hanya berada pada kisaran 20-45 persen, atap menggunakan baja ringan dan dalam kondisi baik serta pada umumnya kerusakan hanya di pintu dan jendela.
Ujang Arifin, Kepala Sekretariat Dinas Pendidikan DKI Jakarta, yang ikut mendampingi Didi menjelaskan bahwa gedung sekolah yang ada pada saat ini 46,60 persen di antaranya belum dilengkapi sarana penunjang pendidikan. Padahal, ketentuan sarana penunjang sudah diatur Permendiknas No 24/2008.
“Permendiknas mengatur standar sarana prasarana sebuah gedung sekolah yang di dalamnya memuat 7 ruang sarana penunjang. Kenyataan di lapangan, 820 gedung belum dilengkapi sarana penunjang,” ujarnya. Jumlah tersebut, diungkapkan Ujang, terdiri dari 660 SDN, 105 SMPN, 28 SMAN, dan 16 SMKN.
Kondisi di lapangan juga memberikan kenyataan bahwa 18 persen gedung dalam kondisi ambruk, 22, 2 persen kondisi rusak berat, dan 13 persen kondisi rusak sedang
JAKARTA, SELASA — Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, Bidang Sarana dan Prasarana Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan merehabilitasi 321 gedung sekolah SDN, SMPN, SMAN, dan SMKN. Jumlah ini jauh dari yang diusulkan pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta kepada DPRD.
Dalam jumpa pers di balai kota, Selasa (3/2), Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pemprov DKI Jakarta Didi Sugandi mengatakan, ke-321 gedung sekolah ini terbagi dalam 3 tipe rehabilitasi. Yakni rehab total sebanyak 19 sekolah, rehab sedang 10 sekolah, dan rehab berat 229 sekolah.
“Data rekapitulasi gedung sekolah yang diusulkan sebesar 497 gedung, 321 gedung dikerjakan tahun ini dan sisanya 179 gedung sekolah belum masuk target rehab tahun ini,” katanya. Pada rehab total realisasi anggaran mencapai sekitar Rp 233 miliar dan rehab berat sebanyak Rp 348 miliar, sementara Didi tidak merinci besaran untuk rehabilitasi sedang.
Adapun kriteria sebuah sekolah masuk rehab total adalah umur bangunan lebih dari 30 tahun, tingkat kerusakan lebih dari 65 persen, tidak memilik ruang penunjang serta konstruksi belum standar, masih menggunakan bahan kayu yang sudah rapuh, dan konstruksi bangunan tidak dapat dipertahankan.
Untuk jenis rehabilitasi berat, kriterianya mencakup tingkat kerusakan di atas 45-65 persen dan tidak rawan banjir setiap musim hujan. Adapun untuk rehab sedang, tingkat kerusakan hanya berada pada kisaran 20-45 persen, atap menggunakan baja ringan dan dalam kondisi baik serta pada umumnya kerusakan hanya di pintu dan jendela.
Ujang Arifin, Kepala Sekretariat Dinas Pendidikan DKI Jakarta, yang ikut mendampingi Didi menjelaskan bahwa gedung sekolah yang ada pada saat ini 46,60 persen di antaranya belum dilengkapi sarana penunjang pendidikan. Padahal, ketentuan sarana penunjang sudah diatur Permendiknas No 24/2008.
“Permendiknas mengatur standar sarana prasarana sebuah gedung sekolah yang di dalamnya memuat 7 ruang sarana penunjang. Kenyataan di lapangan, 820 gedung belum dilengkapi sarana penunjang,” ujarnya. Jumlah tersebut, diungkapkan Ujang, terdiri dari 660 SDN, 105 SMPN, 28 SMAN, dan 16 SMKN.
Kondisi di lapangan juga memberikan kenyataan bahwa 18 persen gedung dalam kondisi ambruk, 22, 2 persen kondisi rusak berat, dan 13 persen kondisi rusak sedang
Langganan:
Postingan (Atom)